Serang (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten mencatat indikator sosial ekonomi Provinsi Banten sepanjang 2025 menunjukkan penguatan yang ditandai dengan penurunan kemiskinan, peningkatan serapan tenaga kerja, serta pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Banten Budi Santoso di Kota Serang, Kamis mengatakan, penguatan indikator tersebut mencerminkan dampak dari arah kebijakan pembangunan daerah yang menitikberatkan pada penciptaan lapangan kerja dan penguatan ekonomi berbasis wilayah.
“Tingkat pengangguran turun. Penurunannya cukup terasa di perdesaan,” ujar Budi Santoso saat Ekspose Berita Resmi Statistik di Kantor BPS Provinsi Banten, KP3B Curug, Kota Serang.
Baca juga: Inflasi Banten pada Desember 2025 0,67 persen, dipicu cabai rawit
Ia menjelaskan, penyerapan tenaga kerja paling besar terjadi di sektor pertanian, disusul industri pengolahan dan perdagangan. Kondisi itu dinilai berkontribusi langsung terhadap penurunan pengangguran di wilayah perdesaan.
“Ketika sektor pertanian naik paling tinggi, dampaknya terlihat pada penurunan pengangguran perdesaan,” katanya.
Menurut Budi, arah kebijakan Pemprov Banten difokuskan pada penguatan konektivitas, pertanian, investasi, pendidikan, dan UMKM agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya terpusat di wilayah perkotaan.
“Program prioritas daerah diarahkan pada penguatan konektivitas, pertanian, investasi, pendidikan, dan UMKM. Ini selaras dengan indikator sosial ekonomi yang dirilis BPS,” ujarnya.
Baca juga: Gubernur Banten sebut turunnya kemiskinan sinyal penting perbaikan ekonomi
Ia menyebutkan, penguatan infrastruktur desa dilakukan melalui Program Bangun Jalan Desa Sejahtera (Bang Andra), pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT) di kawasan lumbung pangan, serta renovasi rumah tidak layak huni (RTLH) untuk menopang aktivitas ekonomi masyarakat.
Di bidang sumber daya manusia, Pemprov Banten menjalankan Program Banten Cerdas melalui sekolah gratis SMA, SMK, dan SKh swasta serta Sekolah Rakyat untuk memperluas akses pendidikan. Di sisi ketenagakerjaan, optimalisasi Balai Latihan Kerja terus didorong untuk menyiapkan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan industri.
“Seluruh program ini diarahkan untuk memperkuat basis ekonomi daerah dan memperluas kesempatan kerja,” kata Budi Santoso.
BPS Provinsi Banten mencatat, persentase penduduk miskin pada September 2025 turun 0,12 poin dibanding Maret 2025 menjadi 5,51 persen, dengan jumlah penduduk miskin berkurang 11.900 orang menjadi 760.850 orang.
Baca juga: Andra Soni buka ruang kritik konstruktif perbaiki tata kelola Banten
Kepala BPS Provinsi Banten Yusniar Juliana mengatakan, indikator makro menunjukkan tren yang sejalan antara pertumbuhan ekonomi, penurunan pengangguran, dan penurunan kemiskinan.
“Pertumbuhan ekonomi positif dan ada akselerasi. Secara umum diikuti penurunan pengangguran dan kemiskinan,” ujarnya.
Ia menambahkan, karakter kemiskinan perkotaan dan perdesaan memiliki pola berbeda sehingga membutuhkan pendekatan intervensi yang lebih spesifik.
“Karakter kemiskinan kota dan desa berbeda, sehingga pendekatan intervensinya perlu dirinci,” kata Yusniar.
Baca juga: Kabupaten Lebak jadi prioritas percepatan pembangunan
Dari sisi ketenagakerjaan, jumlah penduduk bekerja di Banten pada November 2025 mencapai 6,05 juta orang atau bertambah 296.340 orang dibanding Agustus 2025.
Peningkatan terbesar terjadi di sektor pertanian sebanyak 159.350 orang, industri pengolahan 138.920 orang, dan perdagangan 75.090 orang.
Sementara itu, ekonomi Banten sepanjang 2025 tumbuh 5,37 persen dibanding 2024, dengan nilai PDRB mencapai Rp873,63 triliun atas dasar harga berlaku. Pertumbuhan didorong industri pengolahan, konstruksi, dan perdagangan, serta konsumsi rumah tangga dan investasi.
“Secara year on year terlihat ada peningkatan konsumsi rumah tangga yang memberi indikasi penguatan aktivitas ekonomi,” ujar Yusniar.
Baca juga: Program "Bang Andra" disebut buka akses Desa Sukajaya Serang
