Tangerang (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang, Provinsi Banten menyebutkan budi daya maggot di Intermediate Treatment Facility (ITF) Jatiuwung berhasil mengolah 10-15 ton sampah organik setiap harinya menjadi produk turunan kompos berkualitas tinggi.
"Maka itu, kita akan maksimalkan ITF Jatiuwung ini dalam pengelolaan sampah organik menjadi maggot," kata Kepala Bidang Kebersihan dan Pengelolaan Sampah DLH Kota Tangerang Iwan di Tangerang Kamis.
Iwan mengatakan sampah organik yang dikelola menjadi maggot di ITF Jatiuwung berasal dari pasar, rumah sakit dan rumah makan di Kota Tangerang.
“Sejauh ini hasilnya sangat luar biasa, kami bisa mengolah puluhan ton sampah organik lewat budi daya maggot menjadi kompos organik yang bisa dimanfaatkan masyarakat Kota Tangerang,” katanya.
Baca juga: DLH Kota Tangerang: Pupuk organik mesin RDF bisa jadi pakan maggot
Selain itu, pengelolaan sampah di ITF Jatiuwung juga berkontribusi besar dalam mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing.
Hal ini dinilai menjadi salah satu langkah strategis yang efektif untuk memperpanjang masa layak operasional TPA Rawa Kucing sampai beberapa tahun mendatang.
Selain itu, Pemkot Tangerang berharap pengolahan sampah organik lewat budi daya maggot di ITF Jatiuwung dapat berjalan produktif sekaligus menciptakan kondisi lingkungan Kota Tangerang yang bersih, sehat dan bebas dari sampah.
“Kami menargetkan pada tahun ini bisa meningkatkan kapasitas penyerapan sampah organik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya sehingga sampah organik yang masuk ke TPA Rawa Kucing bisa berkurang secara signifikan,” kata dia.
Baca juga: Pertamina Patra Niaga RJBB dukung rumah budidaya maggot di Magoo Fest 2025
Kepala DLH Kota Tangerang Wawan Fauzi mengatakan TPA Rawa Kucing masih memiliki daya tampung yang memadai pada tahun 2026. Namun demikian, Pemkot telah menyiapkan beberapa kebijakan strategis untuk memastikan daya tampung TPA Rawa Kucing bisa maksimal pada tahun ini.
Misalnya saja dengan sistem pengelolaan sampah modern berbasis sanitary landfill yang akan diterapkan dengan teknik mengisolasi sampah dari lingkungan untuk mencegah pencemaran air, tanah, dan udara.
Kemudian DLH juga akan menata ulang landfill di TPA Rawa Kucing menggunakan geomembran dengan melakukan penutupan di beberapa landfill yang sudah tidak aktif.
"Jadi nanti hanya landfill aktif yang akan dibuka terus. Pola sistem ini akan berjalan dengan kontrol berkala,” ujar Wawan.
Baca juga: Pelajari pengolahan sampah, Pemkot Kitakyushu Jepang kunjungi TPS3R Tangerang
