Lebak (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, Banten, menyebutkan enam orang meninggal dunia akibat bencana alam sejak Desember 2025 sampai 26 Januari 2026.
Kepala BPBD Kabupaten Lebak Sukanta di Lebak, Selasa, mengatakan pihaknya sudah melaporkan kasus kematian enam warga dan 146 rumah rusak akibat bencana alam tersebut pada Sekretaris Daerah (Sekda) setempat seiring cuaca ekstrem berupa curah hujan tinggi yang disertai angin kencang.
Ia mengatakan kerugian estimasi material, termasuk kerusakan infrastruktur sarana umum, seperti jalan dan jembatan gantung akibat bencana alam itu hingga kini masih dalam pendataan.
BPBD Kabupaten Lebak mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di daerah rawan bencana alam, agar meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan guna mengurangi risiko kebencanaan.
Baca juga: 28 kecamatan di Lebak berpotensi terjadi pergerakan tanah
Berdasarkan laporan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), lanjutnya, cuaca ekstrem berlangsung sampai Februari 2026.
"Kami berharap masyarakat dapat mewaspadai cuaca ekstrem itu agar tidak ada korban jiwa," katanya.
Lebih jauh pihaknya mengajak masyarakat menjaga hutan dan ekosistem lingkungan alam agar hijau serta lestari, sehingga tidak menimbulkan bencana ekologi.
Selain itu kembangkan tanaman vegetasi yang memiliki akar kuat, tidak melakukan pemotongan lereng dan penebangan pohon, guna pencegahan longsor serta pergerakan tanah.
Ia mengatakan wilayah Kabupaten Lebak berpotensi pergerakan tanah dan longsor di 28 kecamatan karena topografi alamnya pegunungan, perbukitan dan aliran sungai.
"Kita beruntung, bencana dua bulan terakhir itu masih dinyatakan rendah dibandingkan tahun 2020 ketika banjir bandang dan longsor mengakibatkan ribuan orang mengungsi, ratusan rumah rusak, serta menelan korban jiwa," katanya.
Baca juga: Gubernur Andra Soni siap dukung pembentukan tim penanganan bencana
Ketua RW Kampung Marga Mulya Desa Cigoong Utara, Kabupaten Lebak, Abdul Syukur mengatakan pihaknya kini siaga bencana guna mencegah korban jiwa, karena tercatat 18 rumah rusak dan satu mushala mengalami retak-retak akibat pergerakan tanah.
Bahkan pergerakan tanah yang terjadi Jumat (23/1) malam cukup tinggi, menyebabkan tiga rumah rusak berat dan satu rumah roboh.
"Kami minta warga yang kondisi rumahnya banyak retak-retak jika curah hujan tinggi agar mengungsi ke tempat yang lebih aman, sehingga tidak menimbulkan korban jiwa," katanya.
Baca juga: Status tanggap darurat bencana di Serang meluas hingga 86 desa
