Lebak (ANTARA) - Sektor pertanian hingga kini masih andalan ekonomi masyarakat Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, karena didukung lahan luas untuk mendukung program swasembada pangan.
Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Deni Iskandar di Lebak, Rabu mengatakan, pemerintah daerah mendorong sektor pertanian dapat menyumbangkan kontribusi besar untuk peningkatan ekonomi masyarakat.
Dimana didukung dengan lahan begitu luas, sehingga bisa menjadi daerah swasembada pangan dan memberikan ketersediaan pangan nasional.
Oleh karena itu, berdasarkan Rencana Strategis (Renstra) Dinas Pertanian dan data Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa sektor pertanian dapat menyerap tenaga kerja terbesar, sekaligus menjadi penopang utama ekonomi perdesaan.
Bahkan, Kabupaten Lebak juga dikenal sebagai lumbung pangan di Provinsi Banten, dengan produksi padi yang mampu memenuhi kebutuhan daerah dan surplus.
Baca juga: Pertanian dan wisata jadi kunci atasi disparitas ketimpangan di Banten
Produksi pangan 2025 mencapai 400 ribu ton dengan kebutuhan konsumsi masyarakat Lebak berpenduduk 1,5 juta sebanyak 180 ribu ton, sehingga surplus 220 ribu ton atau cukup untuk 17 bulan ke depan.
Selain itu juga ditopang subsektor tanaman hortikultura, palawija dan perkebunan yang terus berkembang.
Produksi hortikultura dan palawija, seperti buah durian, rambutan Aceh, manggis, ubi jalar, singkong, kacang tanah, jagung dan dapat menggulirkan hingga miliaran rupiah per tahun, termasuk perkebunan cengkeh, karet dan coklat.
"Kami meyakini perputaran uang miliaran rupiah dari sektor pertanian dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan," katanya.
Deni menyebutkan, sektor pertanian hingga kini masih menjadi penopang ekonomi utama masyarakat Kabupaten Lebak.
Baca juga: Dinas Pertanian Lebak jamin persediaan beras melimpah
Kontribusi sektor pertanian itu mencapai hampir 28% terhadap Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) dengan melibatkan lebih dari 200 ribu pelaku usaha pertanian.
Selama ini, sektor pertanian terus dikembangkan juga diperkuat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus pengendalian kemiskinan.
"Kita setiap tahun anggaran pertanian cukup besar untuk meningkatkan produksi pangan guna mendukung program swasembada pangan," kata lelaki alumni Pertanian Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Tambakbaya, Ruhiana, mengatakan, selama ini tingkat kesejahteraan 150 orang petani di wilayah itu dinilai relatif baik dan mereka bisa menghasilkan pendapatan ekonomi dari pertanian pangan mencapai Rp32,5 juta per musim panen per empat bulan.
"Pendapatan Rp32,5 juta dengan rata-rata produksi 5 ton gabah kering pungut dan harga Rp6.500 per kilogram," katanya.
Baca juga: Produksi padi di Serang 576.091 ton, lampaui target
