Lebak (ANTARA) - Produksi beras di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten melimpah dan terpenuhi permintaan pedagang pasar tradisional, sehingga tidak mendatangkan beras impor dari luar negeri.
"Kita merasa bangga beberapa tahun terakhir produksi beras bisa memenuhi pedagang di semua pasar tradisional di daerah itu," kata Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Lebak Deni Iskandar di Lebak,Selasa.
Berdasarkan data produksi beras dari Distan Lebak periode Januari sampai Oktober 2025 tercatat 381.097 ton dan kebutuhan konsumsi masyarakat 154.253 ton per tahun atau 12.854 ton per bulan dengan penduduk 1,4 juta jiwa.
Sedangkan, penyerapan beras dari Januari - Oktober 2025 sebanyak 128.544 ton, sehingga surplus untuk delapan bulan atau 252.552 ton.
Baca juga: Pemkab Lebak jamin persediaan pangan cukup hingga Natal dan tahun baru
Dengan demikian, produksi beras dari petani lokal melimpah dan dipasok ke pasar tradisional di Kabupaten Lebak, sehingga tidak ada lagi beras impor berasal negara Vietnam, Thailand dan Kamboja.
"Kita mengapresiasi persediaan beras di pasar itu tidak mendatangkan beras impor," kata Deni.
Menurut dia, kebijakan Presiden Prabowo Subianto sangat kuat untuk program ketahanan pangan dengan menyalurkan bantuan benih kepada kelompok tani, termasuk peralatan pertanian.
Selain itu juga pembangunan infrastruktur sarana irigasi dan penurunan harga pupuk bersubsidi, sehingga biaya produksi secara otomatis berkurang.
Saat ini, mereka kelompok tani semangat dan bergairah untuk meningkatkan indeks pertanaman (IP) hingga tiga kali tanam dalam setahun.
Disamping itu juga petani melakukan gerakan Luas Tambah Tanam (LTT) guna mensukseskan program swasembada pangan.
"Kami optimistis produksi pangan meningkat dan bisa terealisasi ketersediaan pangan nasional melimpah , karena kebijakan yang kuat terhadap sektor pertanian pangan," katanya.
Baca juga: Cegah permainan harga, Banten awasi ketat distribusi beras
Ia mengatakan, petani memasok beras ke pasar tradisional tersebut jenis medium dengan harga tergantung kualitas berkisar antara Rp12. 500 sampai Rp13.500 per kilogram (kg).
Selama ini, permintaan beras relatif tinggi, terlebih menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
"Kami berharap petani setelah panen kembali melakukan percepatan tanam, agar pasokan beras lokal melimpah dan mampu mengantisipasi inflasi," katanya.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan ) Sukabungah Tambakbaya Kabupaten Lebak Ruhiana mengatakan, panen padi seluas 150 hektare di wilayahnya dan memenuhi permintaan pasar, sehingga dapat menggulirkan perputaran uang hingga miliaran rupiah per musim panen.
"Kita secara berkelanjutan bisa memasok beras sekitar 30 ton per pekan ke pedagang pengecer di Rangkasbitung dengan harga Rp12.500 per kg hingga kembali panen, karena tiga kali panen dalam setahun," kata Ruhiana.
Sementara itu, Ujang, seorang pedagang beras di Pasar Maja Kabupaten Lebak mengaku dirinya setiap pekan dipasok beras lokal sebanyak 30 ton dengan kualitas medium.
Kita sudah tiga tahun terakhir ini tidak menjual beras impor, karena produksi beras lokal melimpah," katanya.
Baca juga: Polda Banten awasi harga beras di Serang untuk pastikan tetap sesuai HET
