Tangerang (ANTARA) - Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang, Banten, dr. Dini Anggraeni mengatakan konsumsi minuman manis seperti sirup, teh manis, maupun teh kemasan, secara berlebihan saat berbuka dapat meningkatkan asupan gula harian secara signifikan.
“Banyak masyarakat yang langsung mengonsumsi minuman dan makanan manis dalam jumlah besar saat berbuka. Padahal tambahan gula yang berlebihan bisa berdampak pada peningkatan berat badan dan risiko gangguan kesehatan,” kata Dini dalam keterangannya di Tangerang, Senin.
Jika kebiasaan tersebut dilakukan terus-menerus tanpa diimbangi pengaturan kalori dan aktivitas fisik yang cukup, kata dia, berpotensi menyebabkan kelebihan energi yang disimpan tubuh dalam bentuk lemak sehingga memicu kenaikan berat badan.
Baca juga: Petani Pandeglang pasok tiga ton timun suri Jiput ke Jakarta
Karena itu pihaknya mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam memilih menu berbuka puasa guna menjaga keseimbangan gizi dan mencegah risiko penyakit tidak menular.
Selain minuman manis, makanan tinggi lemak seperti gorengan, santan kental, serta makanan cepat saji, yang kerap menjadi pilihan saat berbuka juga dapat meningkatkan asupan kalori dan lemak jenuh.
Dalam jangka panjang, lanjutnya, pola konsumsi tersebut berisiko meningkatkan kadar kolesterol, memperbesar lingkar perut, serta memicu penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi.
”Dinkes mengingatkan bahwa batas konsumsi gula tambahan yang dianggap aman adalah maksimal 10 persen dari total kebutuhan energi harian,” katanya.
Baca juga: Ramadhan, omzet pedagang gula aren di Lebak naik dua kali lipat
Untuk orang dewasa dengan kebutuhan sekitar 2.000 kilokalori per hari, jumlah tersebut setara dengan kurang lebih 50 gram gula atau sekitar empat sendok makan per hari.
”Gula tambahan yang dimaksud meliputi gula pasir, gula dalam sirup, minuman manis, kue, dan makanan olahan, bukan gula alami yang terdapat dalam buah utuh atau susu,” ucap Dini.
Bahkan ia menyarankan konsumsi gula tambahan sebaiknya dibatasi hingga kurang dari lima persen dari total energi harian, atau sekitar 25 gram (setara empat sendok teh) per hari, guna memperoleh manfaat kesehatan yang lebih optimal.
Di sisi lain masyarakat juga perlu memastikan asupan karbohidrat, protein, dan lemak terpenuhi secara proporsional serta dilengkapi vitamin dan mineral dari sayur dan buah.
”Hal ini penting agar kebutuhan gizi harian tetap tercapai meski waktu makan selama Ramadan lebih terbatas,” kata Dini Anggraeni.
Baca juga: Sidang isbat penetapan Idul Fitri digelar 19 Maret 2026
