Lebak (ANTARA) - Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Lebak, Provinsi Banten mengoptimalkan pelatihan bagi calon pekerja migran Indonesia (PMI) di daerah itu agar berkompeten, terampil, dan profesional dalam melaksanakan tugas kerja di luar negeri.
"Semua calon tenaga migran di sini mengikuti pelatihan selama 30 hari di Unit Pelaksana Teknis Daerah Balai Latihan Kerja milik pemerintah daerah," kata Pelaksana Tugas Kepala Disnaker Kabupaten Lebak Rully Charuliyanto di Lebak, Rabu.
Pelatihan kerja bagi calon PMI itu menitikberatkan pada penguasaan kemampuan kerja, yang meliputi bahasa asing dan keterampilan tata kelola kerja.
Baca juga: Cegah TPPO, Disnaker Lebak larang calon PMI kerja ke Kamboja
Selain itu, katanya, kemampuan mereka beradaptasi budaya dan bersikap sesuai dengan standar serta persyaratan di tempat kerja.
Pelaksanaan pelatihan kerja tersebut melibatkan lembaga pendidikan dan keterampilan (LPK) yang profesional di bidangnya.
Dia mengatakan calon PMI berasal dari Kabupaten Lebak kebanyakan bekerja di Arab Saudi, Taiwan, Singapura, Malaysia, Jepang, Turki, Hongkong, Brunei, Kuwait, Korsel, Qatar, dan Bulgaria.
Mereka bekerja di sektor formal, seperti perawat bayi, lansia, perawat rumah sakit, salon aksesoris kendaraan, penjaga toko, pabrik, perbengkelan, dan petugas pengamanan.
Para calon PMI setempat umumnya dengan pendidikan jenjang SMP hingga perguruan tinggi.
"Kami meyakini dengan pelatihan itu dapat meningkatkan kompetensi ketrampilan, sehingga bekerja profesional," katanya.
Baca juga: Palsukan kartu pekerja migran, UM dan AJW diringkus polisi Bandara Soetta
Rully mengatakan sebelum diberangkatkan ke berbagai negara tersebut, mereka sudah memiliki keterampilan dan kompetensi di bidangnya sesuai kebutuhan tenaga kerja di negara penempatan.
Disamping itu, mereka sudah mampu menguasai bahasa negara yang dituju.
"Kami minta semua tenaga pekerja ke luar negeri memiliki kemampuan bahasa dan kompetensi serta sertifikasi sesuai permintaan dari negara itu," kata dia.
Jubaedah (30), warga Sajira, Kabupaten Lebak yang seorang calon PMI setempat, mengaku senang bisa mengikuti pelatihan kompetensi sebelum berangkat ke Hongkong, sehingga bisa menguasai bahasa Mandarin, tata laksana kerja, dan keterampilan lainnya.
"Kami termotivasi bekerja ke luar negeri itu ingin mengubah ekonomi keluarga juga membiayai orang tua," kata dia.
Baca juga: Minat warga Tangerang jadi pekerja migran masih tinggi
