Lebak (ANTARA) - Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Banten meminta petani di daerah itu terus mengembangkan padi gogo atau padi huma di lahan darat untuk mendukung produksi pangan masyarakat.
"Daerah ini sangat berpotensi dikembangkan padi gogo di 28 kecamatan," kata Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Deni Iskandar di Lebak, Kamis.
Produksi padi gogo dari Januari sampai Oktober 2025 sebanyak 19.000 ton gabah kering pungut (GKP) dengan panen seluas 5.515 hektare.
Selama ini, produksi padi gogo di Kabupaten Lebak belum maksimal dengan kisaran antara 40-60 ribu ton GKP per tahun, padahal bila dioptimalkan bisa menghasilkan 200 ribu ton GKP/tahun.
Baca juga: Warga Badui serentak tanam padi gogo di lahan darat
Petani yang mengembangkan padi gogo, kata dia, kini relatif berkurang dibandingkan sebelumnya di 28 kecamatan, sehingga bisa memenuhi ketersediaan pangan masyarakat.
Saat ini, petani yang melestarikan padi gogo di beberapa kecamatan antara lain Leuwidamar, Cirinten, Sajira, Cimarga , Sobang, Cibeber, Cileles, Cigemblong , Muncang, Gunungkencana , Banjarsari, Bojongmanik, Bayah dan Cilograng.
Mereka kebanyakan petani yang mengembangkan padi gogo di Lebak itu dari komunitas adat, termasuk Suku Badui.
Oleh karena itu, pihaknya mengajak petani agar memaksimalkan mengembangkan pertanian padi gogo dengan benih Situbagendit dengan masa panen 100 hari.
Sedangkan, petani kasepuhan adat dengan menggunakan benih lokal dengan masa panen enam bulan.
"Kita mendorong petani dapat mengembangkan pertanian padi gogo di lahan darat yang begitu luas dan dapat mendukung program swasembada pangan," katanya.
Baca juga: Dukung swasembada pangan, petani Lebak masih lestarikan padi gogo
Udin (55) petani Cirinten Kabupaten Lebak mengatakan selama ini pertanian padi gogo dapat memenuhi ketersediaan pangan keluarga dan mereka tidak menjual gabah maupun beras jika panen raya.
Pertanian padi gogo dengan sistem tumpang sari bersama pertanian palawija dan aneka sayuran.
"Kami tanam padi gogo seluas 5.000 meter bisa menghasilkan 130 ikat padi (geugeus) dan jika dikonversikan beras menjadi 100 kilogram," katanya.
Sementara itu, Tetua Adat Badui yang juga Kepala Desa Kanekes Kabupaten Lebak Djaro Oom mengatakan masyarakat di wilayahnya serentak menanam padi gogo selama satu bulan terakhir dan dipastikan panen April 2026.
Padi gogo untuk masyarakat Badui menjadi kewajiban untuk memenuhi kedaulatan pangan keluarga.
"Kita masyarakat Badui hingga hari ini tidak ada yang mengalami kerawanan pangan atau kelaparan karena terpenuhi ketersediaan pangan dari hasil panen padi gogo itu," katanya.
Baca juga: Kelompok tani di Lebak diajak percepat masa tanam
