Lebak (ANTARA) - Penderita demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Lebak, Banten, dari Januari hingga September 2025, menembus 540 kasus dan satu penderita diantaranya dilaporkan meninggal dunia.
Kepala pelaksana Harian (Plh) Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak Endang Komarudin di Lebak, Selasa, meminta masyarakat untuk mewaspadai penyebaran DBD menyusul curah hujan cukup tinggi dan berpotensi berkembangbiaknya nyamuk aedes aegypti.
Biasanya, katanya, populasi nyamuk tersebut berkembangbiak pada genangan air di barang-barang bekas, seperti kaleng, bak, ember, pot bunga, dan lainnya.
Oleh karena itu, masyarakat diminta mengaktifkan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan mengubur, menimbun dan menutup (3M) barang bekas serta pemberian abate di bak mandi.
Kegiatan PSN plus 3M dinilai lebih efektif dan murah untuk memutus mata rantai penyebaran kasus DBD.
Baca juga: Cegah DBD, Dinkes Lebak minta warga optimalkan jumantik dan PSN
Selain itu, masyarakat juga diminta melakukan gotong royong untuk menjaga kebersihan lingkungan dan membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
"Kami minta masyarakat berperan aktif untuk melakukan PSN plus 3M dan menjaga kebersihan lingkungan, sehingga dapat mematikan jentik-jentik nyamuk aedes aegypti itu," katanya.
Kasus gigitan nyamuk yang mematikan itu tersebar di 32 puskesmas dan hanya puskesmas Cirinten yang nol persen atau tidak ditemukan DBD.
Jumlah penderita kasus DBD terbesar di Puskesmas Rangkasbitung sebanyak 93 orang, Puskesmas Malingping 60 orang, Puskesmas Cimarga 44 orang dan Puskesmas Bayah 44 orang.
Oleh karena itu, pihaknya mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan penularan kasus DBD mengingat tingginya curah hujan selama beberapa pekan terakhir.
"Kami minta warga berperan aktif mencegah penyebaran DBD melalui kebersihan lingkungan dengan PSN serta 3M, sehingga bisa mematikan jentik-jentik nyamuk," ujarnya.
Baca juga: Dinkes Lebak gencar sosialisasi PHBS cegah perluasan DBD
