Lebak (ANTARA) - Tetua adat yang juga Kepala Desa Kanekes Kabupaten Lebak, Banten Jaro Oom mengatakan bahwa masyarakat Badui hingga kini mempertahankan budaya kearifan lokal, karena titipan leluhur yang harus dilestarikan dan jaga dalam kehidupan.
"Warga di permukiman kawasan Badui hingga kini masih mempertahankan kearifan lokal," kata Jaro Oom saat menerima wartawan dalam kegiatan Kemah Budaya Wartawan dalam rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Lebak, Jumat.
Kawasan Badui di pedalaman Kabupaten Lebak seluas 5.190 hektare terdiri dari hutan lindung 3.190 hektare dan 2.000 hektare kawasan permukiman dengan penduduk kurang lebih 16 ribu jiwa tersebar di 68 kampung dan di antaranya tiga kampung Badui Dalam.
Baca juga: Tetua adat dukung rencana kemah wartawan di kawasan Badui
Dalam keseharian kehidupannya, mereka sangat sederhana dan rumah Badui kondisinya panggung juga terbuat dari bambu dan atap.
Kesederhanaan masyarakat Badui hingga kini penuh kedamaian juga toleransi dengan saling menghargai dan menghormati.
Karena itu, pengunjung ke permukiman masyarakat Badui harus mematuhi aturan adat setempat , sebab ada juga kawasan Badui yang boleh dimasuki juga ada juga yang tidak boleh dimasuki, seperti rumah pemangku adat.
Selama ini, kata dia, kawasan Badui tidak boleh dijadikan destinasi wisata, karena kondisinya tidak ditata dan tidak ada infrastruktur jalan, penerangan dan pendidikan.
Baca juga: Kemah budaya HPN 2026 jadi sarana wartawan belajar kearifan Badui
Masyarakat Badui cukup keberatan jika dijadikan destinasi wisata dan lebih baik kalimat Saba Budaya untuk silaturahmi bersama masyarakat adat.
Selain itu, juga sumber mata pencaharian masyarakat Badui bercocok tanam ladang dan perempuannya sebagai perajin menenun dan aksesoris untuk bidang ekonomi.
Permukiman masyarakat adat Badui juga banyak pelaku usaha dengan menjual aneka ragam kerajinan, seperti kain tenun, tas koja, souvenir, lomar, baju kampret dan lainya.
Masyarakat Badui juga hingga kini belum pernah kelaparan maupun kerawanan pangan, karena memiliki cadangan pangan dari hasil panen padi gogo.
Baca juga: Samuel Wattimena sebut tenun Badui bisa jadi lokomotif wisata Banten
Cadangan pangan padi gogo jika panen, mereka gabah disimpan dalam 'leuit' atau rumah pangan dengan kapasitas lima sampai 10 ton per leuit.
Bahkan , cadangan pangan itu di antaranya ada padi yang bertahan hingga 500 tahun dengan kondisi berwarna hitam.
"Kita hingga kini stok pangan melimpah dari hasil bercocok tanam, sehingga belum pernah warga mengalami kelaparan," kata Jaro Oom.
Baca juga: Perkampungan Suku Badui Dalam ditutup tiga bulan untuk ritual Kawalu
Sekretaris PWI Banten Fahdi Khalid mengatakan pihaknya mengapresiasi masyarakat Badui yang sudah dikenal baik di tingkat nasional maupun internasional, karena memiliki nilai menjaga dan melestarikan nilai-nilai kearifan lokal yang masih dipertahankan.
Karena itu, HPN 2026 di Banten maka digelar Kemah Budaya Wartawan agar wartawan bisa mengenal kehidupan tatanan sosial masyarakat Badui.
"Kami banyak terimakasih kepada Jaro Oom sebagai tetua adat masyarakat Badui menerima kunjungan wartawan untuk bersilaturahmi sekaligus mengenal budaya Badui," katanya menjelaskan.
Sementara itu, Perwakilan PWI Pusat Kadir mengatakan dirinya kali pertama mengunjungi masyarakat Badui, namun cukup menarik, karena kondisi topografi alamnya perbukitan dan pegunungan.
"Kami merasa senang diterima dengan baik oleh tetua adat Badui untuk bersilaturahmi dalam rangkaian HPN 2026, sekaligus teman- teman wartawan untuk menulis kehidupan masyarakat adat Badui dan nantinya dibukukan untuk HPN di Serang," katanya.
Baca juga: Tetua adat gelar sosialisasi larangan alat modern di kawasan Suku Badui
