Serang (ANTARA) - Gubernur Banten Andra Soni mendorong pemerataan dokter ke wilayah Lebak dan Pandeglang yang masih kekurangan, dikarenakan distribusi tenaga kesehatan di wilayahnya dari sekitar 13.000 dokter umum dan spesialis di Banten, hampir 10.000 terkonsentrasi di Tangerang Raya.
“Pemerataan dokter ini salah satu masalah serius. Banyak dokter-dokter kita menumpuk di Tangerang Raya, sementara daerah lain kekurangan. Pertemuan ini kita gunakan untuk mencari solusi jangka pendek maupun panjang untuk bagaimana bisa dokter-dokter kita terdistribusi dengan baik ke semua daerah di Banten,” kata Andra Soni usai bertemu kepala dinas kesehatan kabupaten/kota dan pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Banten di Gedung Negara Provinsi Banten, Kota Serang, Rabu.
Untuk mengatasi persoalan ini, Pemprov Banten menyiapkan program beasiswa berjenjang bagi tenaga kesehatan yang bersedia bertugas di Banten Selatan. Skema ini memungkinkan dokter umum melanjutkan pendidikan menjadi dokter spesialis, hingga subspesialis.
“Tahun ini Untirta akan meluluskan angkatan pertama dokter. Itu kebanggaan bagi Banten, karena kita sudah bisa mencetak dokter sendiri. Kita ingin dorong kampus-kampus di Banten agar bisa membuka program studi spesialis,” ujarnya.
Baca juga: Gubernur Anda Soni sampaikan belasungkawa pada keluarga Andika Lutfi
Menurut Andra, langkah ini penting untuk mengurangi ketimpangan. “Ke depan, kita akan buat semacam program untuk meningkatkan kualitas daripada tenaga-tenaga kesehatan kita. Dari dokter umum menjadi dokter spesialis, yang spesialis menjadi sub-spesialis. Dengan begitu, jumlah dokter spesialis dan subspesialis di Banten bisa meningkat,” tambahnya.
Andra menegaskan, pemerataan tenaga kesehatan menjadi salah satu prioritas dalam visi “Banten Maju”. “Pelayanan kesehatan harus bisa diakses masyarakat secara adil,” ujarnya.
Dalam jangka pendek, Pemprov akan mengembangkan tenaga khusus untuk memenuhi kebutuhan sembilan jenis tenaga kesehatan di puskesmas, terutama di wilayah barat dan selatan. Opsi perekrutan tenaga dokter melalui mekanisme kemitraan juga sedang dijajaki.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Banten, dr Rifqi, menyatakan dukungan penuh terhadap rencana ini. “Kami sudah berdiskusi dengan Pak Gubernur dan Bu Kadis. IDI siap membantu, karena tujuan kita sama, meningkatkan layanan kesehatan untuk masyarakat,” katanya.
Pelaksana tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, Endang Komarudin, memaparkan fakta lapangan yang mengkhawatirkan. Dari 44 puskesmas yang ada, 12 di antaranya sama sekali tidak memiliki dokter gigi.
“Idealnya satu puskesmas minimal ada tiga dokter umum. Tapi di daerah terpencil, masih banyak yang hanya punya satu dokter. Untuk dokter gigi kondisinya lebih berat, banyak puskesmas kosong,” katanya.
Endang menambahkan, penempatan tenaga kesehatan harus menjadi prioritas di Lebak dan Pandeglang yang kondisinya paling darurat. “Semua daerah memang kekurangan dokter, tapi Lebak dan Pandeglang kondisinya mengkhawatirkan,” ujarnya.
Baca juga: Pemuda lintas agama di Kota Serang serukan aksi damai.
