Tangerang (ANTARA) - Pemerintah daerah maupun pusat diminta aktif melibatkan peneliti dalam menyusun kebijakan publik agar program yang dijalankan memiliki dampak dan menekan biaya yang besar karena didasarkan pada kajian yang komprehensif.
"Kita ingin menekankan kepada Pemerintah, marilah ajak ilmuwan, saintis, dan peneliti, dari berbagai multi disiplin dalam membuat kebijakan agar sesuai dengan sasaran yakni AstaCita. Jangan sampah ada program yang hanya sekedar saja, sehingga membuang anggaran," kata Wakil Rektor Bidang Riset dan Alih Teknologi Universitas Bina Nusantara (BINUS) Prof. Dr. Juneman Abraham M.Psi pada acara The 7th International Conference on Biospheric Harmony (ICOBAR) dan Forum Ilmiah Diaspora Indonesia (FIDI) di Tangerang Sabtu.
Menurutnya, kebijakan yang disusun dengan landasan sains dan penelitian akan memberikan dampak yang signifikan pada masyarakat. Apalagi saat ini berbagai kebutuhan masyarakat dikaitkan dengan urusan teknologi serta digital, sehingga para peneliti bisa memberikan masukan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan daerah tersebut.
"Intinya kita ingin kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dilandaskan sains. Karena ketika ada penelitian yang memang mendalam, maka dampaknya juga akan positif," ujarnya.
Baca juga: Perlu kebijakan tepat untuk atasi ketertinggalan industri
Oleh karena BINUS University menggelar ICOBAR-FIDI Joint Scientific Forum selama dua hari pada 23 - 24 Agustus 2025 dan menghadirkan profesor, presenter dari lebih dari 20 negara, seperti Harvard Medical School, The University of Tokyo, Constructor University Bremen, University of Otago, Universitas Indonesia, serta universitas lainnya
Kegiatan ini menjadi wadah ilmiah internasional yang mempertemukan para peneliti, akademisi, praktisi industri, pengambil kebijakan serta ilmuwan diaspora Indonesia dari berbagai belahan dunia untuk berdiskusi, berbagi hasil penelitian, dan membangun kolaborasi strategis dalam menjawab tantangan global terkait ketahanan biosfer dan keberlanjutan lingkungan hidup.
“Dunia menghadapi tantangan yang semakin serius akibat perang, kesenjangan sosial, dan pola kerja yang terkotak-kotak. Maka itu hasil dari pertemuan ini akan diberikan rangkuman kepada pemerintah untuk jadi bagian kebijakan," katanya.
Baca juga: Pemkot Tangerang beri pelatihan pengurus 104 KMP jalankan bisnis
Ketua Panitia penyelenggara ICOBAR-FIDI Joint Scientific Forum Hilda Farida menambahkan kegiatan tahun ini bermitra dengan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4).
Tema “Global Synergy for Biospheric Resilience” diangkat karena menegaskan pentingnya kerja sama lintas batas dalam mengatasi tantangan lingkungan yang semakin kompleks, termasuk perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan krisis sumber daya alam.
"Melalui forum ini BINUS University dan I-4 berharap dapat memperkuat kontribusi Indonesia terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Perserikatan Bangsa-Bangsa (SDGs) melalui pendekatan ilmiah yang kolaboratif dan berbasis solusi," katanya.
Ketua Umum I-4 Prof. Fatwa Firdaus Abdi mengatakan empat sebagai organisasi ilmuwan Indonesia di luar negeri memiliki visi untuk menjembatani kolaborasi pengetahuan antara diaspora dan institusi dalam negeri.
Dalam forum ini peran strategis I-4 memperluas jangkauan kerja sama penelitian serta membuka ruang pertukaran ilmu lintas disiplin dan lintas negara.
“Kemitraan antara I-4 dan BINUS University melalui kegiatan ini merupakan langkah strategis memperkuat kolaborasi ilmiah diaspora Indonesia dengan akademisi dalam negeri," katanya.
Baca juga: Baznas-MUI salurkan bantuan warga Tangerang ke Palestina langsung
