Serang (ANTARA) - Peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia di Banten dijadikan momentum refleksi oleh Gubernur Andra Soni dan Wakil Gubernur A Dimyati Natakusumah untuk menegaskan kembali arti kemerdekaan dalam konteks pembangunan dan pelayanan publik.
Gubernur Andra Soni di Serang, Minggu menekankan pentingnya semangat baru dalam mengisi kemerdekaan di tengah kepemimpinan nasional dan daerah yang juga baru.
“Alhamdulillah, baru saja menyelesaikan rangkaian kegiatan detik-detik proklamasi pengibaran bendera Merah Putih di Pendopo Gubernur Banten. Di hari ulang tahun ke-80 ini dan di bawah kepemimpinan presiden baru serta kepala daerah baru merupakan semangat kita untuk bisa mengisi pembangunan, mengisi kemerdekaan dengan melaksanakan tugas-tugas yang diberikan masyarakat,” katanya.
Baca juga: Relawan Potensi Tangsel bentangkan bendera Merah Putih di Situ Gintung
Wakil Gubernur A Dimyati Natakusumah menambahkan, tantangan mengisi kemerdekaan saat ini lebih berat dibanding perjuangan fisik para pahlawan. Ia menilai persoalan pemerataan pembangunan, korupsi, dan rendahnya integritas birokrasi masih menjadi pekerjaan rumah besar.
“Sekarang yang mengisi kemerdekaan ini berat. Belum sesuai harapan para pendahulu, karena pembangunan masih belum merata, infrastruktur masih belum bagus, masih ada yang KKN, masih ada yang korupsi, masih tidak berintegritas,” katanya.
Menurut Dimyati, aparatur sipil negara (ASN) harus mengubah cara pandang terhadap jabatan dan fungsi birokrasi.
“ASN-ASN harus bekerja semangat, bekerja keras, bekerja ikhlas, bekerja tuntas. Jangan orientasinya hanya salary atau take home pay. Harus betul-betul bisa menghasilkan dampak yang bagus buat rakyat, jangan ingin dilayani, tapi harus melayani,” tegasnya.
Baca juga: Mapala Banten kritik darurat sampah lewat bendera di TPA Bangkonol Pandeglang
Ia juga menekankan bahwa pejabat bukanlah penguasa, melainkan pelayan masyarakat. “Nama aja gubernur-wakil gubernur pelayan, oh mereka berasa pejabat. Jangan, kata-kata pejabat itu kita minimalis. Bahasanya adalah pelayan. Supaya mereka paham bahwa tugasnya dibayar oleh rakyat, jadi harus ada hasil buat rakyat,” ujarnya.
Dimyati menilai, semangat berbagi juga bagian penting dalam menjaga makna kemerdekaan. Ia menyebut bantuan sosial yang disalurkan pemerintah daerah merupakan wujud rasa syukur sekaligus bentuk penghormatan kepada para pejuang.
“Tujuannya rasa terima kasih. Kita harus punya empati kepada para syuhada dan keluarganya. Yang penting kalau punya rezeki, bagi-bagi. Intinya itu, bahwa kemerdekaan ini harus betul-betul menjadi hikmah, menjadi tonggak,” katanya.
Baca juga: HUT ke-80 RI, Kemenkum Banten teguhkan komitmen layanan hukum
Wagub juga menyinggung dinamika aspirasi publik dalam bentuk unjuk rasa. Ia menyebut demonstrasi adalah ekspresi wajar masyarakat, selama dilakukan secara damai. “Bagus dong kalau masih ada yang demo. Kalau dari masyarakat itu wajar. Tapi kalau dari birokrasi, enggak boleh demo, cukup sampaikan langsung kepada kami,” tegasnya.
Terkait isu penggunaan atribut selain bendera Merah Putih pada peringatan kemerdekaan, Dimyati mengingatkan masyarakat untuk menjaga kesakralan momentum ini. “Kalau penyebaran bendera di hari kemerdekaan ini ya Merah Putih. Jiwa raganya harus merah dan putih. Gak boleh lagi ada warna-warna lain dulu,” katanya.
Ia menegaskan pemerintah daerah terus melakukan pemetaan sosial untuk menjaga stabilitas di Banten. “Kita mapping mana yang hitam, mana yang grey, mana yang putih. Supaya bisa dilakukan early warning system,” pungkasnya.
Baca juga: Rutan Serang berikan remisi HUT Ke-80 RI kepada 265 warga binaan
