Lebak (ANTARA) - Pertanian ladang dengan sistem tumpang sari dan kerajinan kain tenun menjadi andalan ekonomi masyarakat Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten.
"Kita sejak dulu ekonomi masyarakat Badui dari bercocok tanam dan perajin penenun," kata Tetua Adat yang juga Kepala Desa Kanekes Jaro Oom saat menerima wartawan dalam kegiatan Kemah Budaya Wartawan dalam rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Lebak, Jumat.
Pertanian masyarakat Badui bercocok tanam ladang di lahan darat dengan sistem tumpang sari sesuai leluhur adat.
Para lelaki Badui menanam padi gogo, jagung, sayuran , palawija, kencur, jahe hingga tanaman keras dengan panen tiga bulan, enam bulan, sembilan bulan dan 12 bulan.
Baca juga: Warga Badui pertahankan budaya kearifan lokal
Selain itu juga perempuannya sebagai perajin kain tenun dan asesoris yang dikerjakan di balai-balai rumah mereka.
Produksi panen pertanian ladang dan kerajinan itu bisa menghasilkan pendapatan ekonomi untuk kesejahteraan keluarga.
"Kami membina perajin kain tenun agar berkembang untuk meningkatkan ekonomi masyarakat Badui," katanya menjelaskan.
Menurut dia, masyarakat Badui mengembangkan pertanian ladang, selain di kawasan tanah hak ulayat adat.
Selain itu juga ada di luar tanah hak ulayat adat, seperti di Cileles, Gunungkencana, Sobang, Muncang, Bojongmanik dan Cirinten.
Baca juga: Samuel Wattimena sebut tenun Badui bisa jadi lokomotif wisata Banten
Pengembangan pertanian bercocok tanam dilakukan setiap setahun sekali sesuai kalender adat.
Begitu juga aneka kerajinan, seperti kain tenun, lomar atau ikat kepala, baju kampret, selendang dengan harga bervariasi mulai Rp20 ribu hingga Rp750 ribu.
"Kami merasa bersyukur dari bercocok tanam dan kerajinan itu kehidupan ekonomi masyarakat relatif baik," katanya menjelaskan.
Sementara itu, Atim, seorang Badui Luar mengatakan pihaknya sudah lima tahun terakhir ini relatif lumayan pendapatan ekonomi dari penjualan produk kerajinan adat.
Bahkan, dua bulan terakhir ini omzet pendapatan hingga mencapai Rp14 juta.
"Kami menjual produk kerajinan itu sebagian hasil kerajinan isteri dan sebagian lainnya mengambil dari perajin," kata Atim.
Baca juga: Perkampungan Suku Badui Dalam ditutup tiga bulan untuk ritual Kawalu
