Lebak (ANTARA) - Komunitas Urban Farming Rangkasbitung, Lebak, Banten produksi pupuk organik dan usaha pertanian serta perikanan untuk memenuhi ketersediaan pangan juga peningkatan ekonomi masyarakat daerah itu.
Ketua Urban Farming Rangkasbitung Faesal Rahmat di Lebak, Selasa mengatakan, pihaknya mendukung program swasembada pangan yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto, sehingga untuk kedaulatan pangan kedepannya tidak impor.
Karena itu, urban farming Kabupaten Lebak dengan 85 anggota dan 11 pengurus dapat mendorong peningkatan produktivitas pangan melalui pengembangan produksi pupuk organik dan usaha pertanian serta perikanan.
Pupuk yang dikembangkan petani milineal dengan usia 25 sampai 40 tahun sudah beredar. Adapun pupuk sendiri merupakan hasil fermentasi kotoran hewani dan limbah sampah dari rumah tangga serta restoran.
Baca juga: Pertamina Patra RJBB gelar Pelatihan Urban Farming Hidroponik di Cawang
Selain itu, Urban Farming Rangkasbitung juga membudidayakan aneka sayuran seperti kacang panjang, terung, pare, oyong, cabai, ketimun. Selain itu, hortikultura, palawija, perikanan, pembenihan tanaman perkebunan.
Dan hasilnya, lanjut dia, dipasok ke sejumlah pasar tradisional di wilayah Kabupaten Lebak, termasuk kebutuhan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Kami mengembangkan pertanian itu untuk mendukung swasembada pangan," katanya menjelaskan.
Ketua Urban Farming Komunal Bersama Desa Kaduagung Barat Kabupaten Lebak Maya mengatakan pihaknya mengembangkan aneka sayuran di komplek perumahan dengan warga dan hasilnya untuk semua masyarakat.
"Kita sudah beberapa kali panen aneka sayuran dan cabai di lahan 400 meter dan terpenuhi ketersediaan pangan warga setempat," kata Maya.
Baca juga: Pemkot Tangerang beri bantuan alat pertanian pada 76 KWT
Kiwong, Pengurus Petani Urban Farming Lebak mengatakan, pihaknya sejak 2021 sampai sekarang memproduksi pupuk kandang dengan sistem fermentasi dari kotoran hewan ternak dicampur air gula serta pemberian EM4 untuk mempercepat penguraian bahan organik dengan proses satu bulan.
Selain itu, juga mengembangkan media tanam dengan campuran tiga item, antara lain pertama pupuk kandang, kedua tanah subur, dan ketiga sekam dibakar dengan proses langsung menjadi pupuk kompos atau media tanam.
Bahkan, kini memproduksi pupuk padat cair dari limbah hewani dan nabati dari limbah restoran, karena permintaan pasar relatif tinggi.
Produksi pupuk kandang dan media tanam itu sebanyak 400 pak dan dijual Rp15 ribu/pak dan pupuk cair sebanyak 200 miligram dijual Rp15 ribu.
"Kami bisa menghasilkan omzet pendapatan relatif lumayan dari hasil penjualan pupuk organik tersebut," kata Kiwong sambil merahasiakan keuntungan.
Baca juga: Komunitas Urban Farming di Lebak produksi pupuk kandang dan media tanam
Sementara itu, Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Deni Iskandar mengatakan, pihaknya mengapresiasi Petani Urban Farming Lebak, karena mereka mendukung program swasembada pangan dan peningkatan ekonomi.
Bahkan, komunitas mereka sudah mampu memasok produksi pangan beras, aneka sayuran keluar daerah.
"Kami hingga kini melakukan pembinaan kepada petani milineal yang tergabung dalam komunitas itu," katanya pula.
Baca juga: 10 sekolah di Kota Serang jadi target program urban farming
