Serang (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang, Provinsi Banten, mencatat sembilan warga di Cikulur, wilayah kerja Puskesmas Ciracas, diduga terjangkit Chikungunya, di mana satu orang di antaranya harus dirawat di rumah sakit.
Kepala Dinkes Kota Serang, Ahmad Hasanudin, di Serang, Rabu, mengatakan delapan warga lainnya yang diduga terjangkit telah diobati oleh tenaga kesehatan (nakes) di puskesmas dan dinyatakan sembuh.
"Pada hari ini ditemukan juga Chikungunya dan lagi dibawa ke RS (rumah sakit). Totalnya ada sembilan. Delapan orang yang sudah diobati di puskesmas itu sudah sembuh, tidak ada yang meninggal," katanya.
Baca juga: Dinkes Kota Tangerang imbau warga waspada potensi penyebaran chikungunya
Hasanudin menjelaskan, petugas puskesmas harus proaktif mendatangi lokasi sebaran penyakit untuk melakukan pemeriksaan, pengobatan, dan penyuluhan, karena masyarakat enggan datang ke fasilitas kesehatan.
Saat melakukan penyelidikan epidemiologi (PE), petugas menemukan jentik nyamuk di rumah penderita. Namun, upaya penegakan diagnosa terkendala karena warga yang bersangkutan menolak dilakukan rapid test.
"Ditemukan jentik nyamuk di rumah yang diduga penderita Chikungunya, tapi sayangnya saat akan dilakukan rapid test yang bersangkutan gak mau untuk memperkuat diagnosa," ujarnya.
Hasanudin menegaskan, fogging atau pengasapan hanya akan dilakukan jika hasil rapid test memastikan kasus tersebut adalah Chikungunya.
"Diagnosa dulu apakah betul Chikungunya, tipes atau apa. Kalau benar itu adalah Chikungunya, baru bisa di-fogging," tuturnya.
Baca juga: 53 ribu warga Kota Serang terima bantuan iuran BPJS Kesehatan
Ia memaparkan, Chikungunya disebabkan oleh virus dan ditularkan oleh nyamuk, seperti Aedes aegypti (di dalam rumah) atau Aedes albopictus (di kebun).
Gejala yang umum dirasakan adalah demam tinggi 39-40 derajat Celcius, nyeri sendi hebat (atralgia) di lutut dan jari hingga sulit berjalan, sakit kepala, serta lemas.
Menurutnya, pencegahan yang paling jitu bukanlah fogging, melainkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus (Menguras, Menutup, Mengubur).
"Itu adalah 3M itu jitu, karena dengan itu tidak akan ada jentik yang jadi nyamuk sebagai vektor. Kalau fogging dan jentik nya masih ada, tumbuh lagi," katanya.
Ia mengimbau masyarakat yang mengalami gejala untuk segera ke puskesmas, banyak minum cairan agar tidak dehidrasi, dan istirahat cukup.
Baca juga: Atasi kendala NIK Program CKG, Dinkes Kota Serang gandeng Disdukcapil
