Tangerang (ANTARA) - AirNav Indonesia tengah mengembangkan sistem aplikasi notifikasi pemberitahuan atau Notice to Airmen (Notam) dengan inovasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai upaya meningkatkan efisiensi dalam penyusunan pelaporan publikasi pada penerbangan.
"Pengembangan aplikasi Notam berbasis AI ini menjadi salah satu bentuk keseriusan AirNav Indonesia dan ini menjadi salah satu contoh terkait sistem Notam lebih baik karena itu sangat penting," kata Direktur Utama AirNav Indonesia Capt Avirianto Suratno di Tangerang, Banten, Senin.
Ia menjelaskan sistem Notam merupakan pemberitahuan penting yang diterbitkan oleh AirNav Indonesia kepada seluruh pemangku kepentingan dalam dunia penerbangan, yang isinya menerangkan perihal kondisi atau perubahan fasilitas, layanan, prosedur, maupun potensi bahaya yang dapat mempengaruhi keselamatan penerbangan.
Baca juga: AirNav dan BNN sepakati cegah penyalahgunaan narkoba di unit pekerja
Kendati demikian dengan kompleksitas informasi yang saat ini cukup tinggi, maka proses penyusunan Notam dituntut ketelitian dan kecepatan, kata dia, agar informasi yang disampaikan dapat sesegera mungkin ditindaklanjuti oleh para pemangku kepentingan dalam proses pengambilan keputusan di dunia penerbangan.
"Dengan pengembangan Notamini, efisiensi dalam penyusunan pelaporan publikasi itu bisa lebih akurat dan cepat," katanya.
Untuk itu pihaknya berkolaborasi dengan Universitas Telkom. "Kolaborasi AirNav Indonesia dengan Universitas Telkom ini juga menjadi contoh sinergi antara industri dan akademisi yang saling menguatkan," katanya.
Direktur Teknik AirNav Indonesia Zaenal Arifin Harahap menambahkan proses pengembangan aplikasi Notam berbasis AI ini dirancang dengan sistem Large Language Model (LLM), yaitu model artificial intelligence yang digunakan untuk memahami dan menghasilkan bahasa manusia.
"LLM digunakan dalam berbagai aplikasi, seperti pembuatan teks, penjawab pertanyaan, penerjemahan konten, dan pembuatan konten kreatif," ujarnya.
Baca juga: 21 penerbangan di Bandara Soekarno Hatta terganggu layang-layang
Penerapan aplikasi Notam melalui LLM, kata dia, dimanfaatkan untuk menerjemahkan input dalam bahasa sehari-hari ke dalam format standar Notam yang sesuai dengan ketentuan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional ICAO.
"Sebetulnya sistem ini sama seperti yang dipakai yaitu Chat GPT kalau kita kasih perintah nanti aplikasi akan membuat output sesuai dengan standar yang ditetapkan ICAO. Jadi harus banyak data-data harus di input untuk sistem itu sendiri," jelasnya.
Menurutnya, setelah melalui berbagai tahapan pengembangan, mulai dari desain, pengujian, hingga evaluasi, aplikasi Notam AI versi 1 ini akhirnya akan siap untuk digunakan oleh personel AirNav baik di kantor pusat maupun kantor cabang.
Sebagai contoh, ketika petugas hendak menginformasikan melalui Notam terkait penutupan runway 07L/25R Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) karena adanya pekerjaan overlay, petugas cukup melakukan input informasi tersebut ke dalam aplikasi dengan menggunakan bahasa sehari-hari.
Baca juga: AirNav Indonesia tingkatkan kompetensi personel ATC lewat simulator
Selanjutnya, aplikasi Notam AI akan mengubahnya ke dalam format Notam dengan bahasa yang spesifik dan singkat, menjadi Runway 07L/25R CLSD Due to overlay WIP.
"Jadi dengan adanya sistem terbaru ini yang dulunya bekerja manual, sekarang menjadi berubah ke AI artinya kurang dari satu menit sudah bisa di generalisir berita penerbangan untuk bisa dikirim ke seluruh dunia penerbangan," ungkapnya.
Sementara itu Rektor Universitas Telkom Prof. Dr. Adiwijaya mengungkapkan kolaborasi ini tidak hanya mendukung kemajuan layanan navigasi penerbangan, tetapi juga memperkuat peran perguruan tinggi sebagai mitra inovatif dalam pembangunan bangsa berbasis teknologi dan riset.
"Kami sangat antusias dapat mendukung upaya AirNav Indonesia melalui penerapan kecerdasan buatan yang dikembangkan oleh tim peneliti dan mahasiswa kami," ucapnya.
Menurut dia, langkah yang dijalani dari kedua belah pihak adalah wujud kontribusi nyata perguruan tinggi dalam mendukung transformasi digital nasional, khususnya di sektor penerbangan yang strategis.
"Di sini kami menyiapkan tim yaitu yang terdiri dari 53 dosen dan 50 mahasiswa. Dimana, mereka akan fokus meriset sistem-sistem. Termasuk di AirNav nanti kita lakukan riset untuk perkembangan dari aplikasi tersebut," kata dia.
Baca juga: AirNav Indonesia luncurkan layanan navigasi ruang udara Papua
