Tangerang (ANTARA) - Presiden Direktur Center For Banking Crisis (CBC) Achmad Deni Daruri menilai fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) saat ini harus dimaknai sebagai proses restrukturisasi ekonomi nasional untuk mencapai daya saing yang lebih tinggi.
Deni menjelaskan narasi mengenai pelemahan rupiah yang mencerminkan lemahnya ekonomi nasional merupakan pandangan yang kurang tepat. Menurutnya, depresiasi (penurunan nilai mata uang) merupakan strategi penyesuaian struktural untuk memperkuat industri domestik dan menekan ketergantungan terhadap impor.
"Ini merupakan restrukturisasi, bukan pelemahan. Depresiasi rupiah justru harus dibaca sebagai upaya menuju daya saing yang lebih tinggi dengan membuka ruang lebih luas bagi sektor ekspor," kata Deni dalam keterangannya, Jumat.
Baca juga: Pemkab Tangerang antisipasi inflasi akibat pelemahan rupiah
Ia memprediksi rupiah akan kembali stabil terhadap mata uang global di masa mendatang. Hal tersebut didasari oleh proyeksi kebijakan bank sentral AS (The Fed) yang berpotensi menurunkan suku bunga, sehingga dolar AS diperkirakan bakal melandai dalam jangka menengah dan panjang.
Pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I-2026 mencapai angka positif sebesar 5,61 persen tentunya harus dibarengi dengan transformasi struktural agar Indonesia tidak masuk ke dalam jebakan pendapatan menengah (middle income trap).
Pertumbuhan yang didominasi konsumsi pemerintah mencapai 21,81 persen serta sektor akomodasi dan makan minum (hospitality) yang tumbuh 13,14 persen perlu didukung menguatnya rasio modal terhadap hasil (Incremental Capital Output Ratio/ICOR).
"Belanja fiskal (belanja negara) harus diarahkan untuk meningkatkan produktivitas jangka panjang," ujarnya.
Baca juga: Menkeu Purbaya siapkan dana stabilisasi obligasi untuk stabilkan rupiah
Deni merekomendasikan pemerintah untuk mengalihkan sebagian belanja negara pada penguatan kualitas sumber daya manusia melalui program nutrisi dan pendidikan vokasi (kejuruan). Langkah ini dinilai strategis untuk menciptakan tenaga kerja yang lebih kompetitif dan produktif.
Terkait tantangan energi global, Deni mendorong percepatan diversifikasi (penganekaragaman) energi dengan memanfaatkan potensi gas domestik dan energi terbarukan. Hal tersebut penting dilakukan guna mengurangi beban fiskal akibat ketergantungan pada impor minyak mentah di tengah tren harga minyak dunia yang masih tinggi.
"Tugas pemerintah adalah memastikan momentum ini menjadi transformasi nyata melalui kebijakan yang inklusif dan berkelanjutan demi menjaga stabilitas pembangunan nasional," kata Deni.
Baca juga: Presiden Prabowo restui tujuh strategi Bank Indonesia perkuat nilai rupiah
Pewarta: Achmad IrfanEditor : Bayu Kuncahyo
COPYRIGHT © ANTARA 2026