Lebak (ANTARA) - Kebutuhan hewan kurban di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten diproyeksikan 8.000 ekor terdiri atas kambing/domba, sapi dan kerbau untuk perayaan Idul Adha 1447 Hijriah/2026 Masehi.

"Kebutuhan hewan kurban tahun ini naik hingga 8.000 ekor dibandingkan tahun sebelumnya 6.159 ekor," kata Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner pada Disnakeswan Kabupaten Lebak drh Hanik Malichatin di Lebak, Rabu.

Kebutuhan hewan kurban pada Idul Adha sebanyak 8.000 ekor itu terdiri atas kerbau 445 ekor, sapi 846 ekor, domba 6.409 ekor dan kambing 300 ekor.

Baca juga: Dinkes Lebak minta warga waspadai kasus DBD saat peralihan musim

Untuk kebutuhan hewan ternak kerbau dan kambing bisa didatangkan dari peternak lokal, sedangkan domba dan sapi dipasok dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan Lampung.

Saat ini, harga hewan kurban di lapak-lapak penjualan di wilayah Rangkasbitung untuk kerbau rata-rata Rp25 juta/ekor, sapi Rp25 juta/ekor, kambing Rp2,5 juta/ekor, dan domba Rp5 juta/ekor.

"Semua hewan kurban yang dijual itu dijamin dalam kondisi sehat, karena dilakukan pengawasan dan pemeriksaan petugas di lapangan," kata Hanik.

Baca juga: Dukung program Gemari, KKP bantu 18 kelompok budi daya ikan di Lebak

Menurut dia, petugas pemeriksaan juga melakukan pengawasan hewan kurban dari luar daerah yang masuk ke wilayah Kabupaten Lebak harus disertai dokumen Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari daerah bersangkutan.

Bila hewan kurban itu tidak dilengkapi dokumen SKKH maka akan dilakukan penolakan dan penyitaan.

Selain itu juga dioptimalkan pemeriksaan kesehatan terhadap hewan kurban ke lapak-lapak penjualan ternak kurban.

Pemeriksaan dilakukan dengan dua tahap yaitu sebelum disembelih (antemortem) dan setelah disembelih (postmortem).

Baca juga: Pedagang di Tangerang prioritaskan kelayakan dan kesehatan hewan kurban

Mereka petugas melakukan pengawasan dan pemeriksaan ke lapangan dari tanggal 11 sampai 26 Mei 2026.

"Pemeriksaan dilakukan dua tahap untuk memberikan jaminan agar ternak bebas dari infeksi antraks maupun penyakit menular lainnya yang membahayakan kesehatan bagi manusia," katanya menjelaskan.

Menurut dia, pihaknya sejauh ini belum menemukan hewan kurban yang terserang penyakit mulut dan kuku (PMK) dari hasil pengawasan dan pemeriksaan di lapangan.

Namun demikian, pihaknya tetap mewaspadai penularan penyakit hewan kurban khususnya dari luar daerah.

Petugas melakukan pemeriksaan hewan kurban di sejumlah lapak-lapak penjualan, Jalan Siliwangi dan Bypass Soekarno - Hatta dan Rangkasbitung - Pandeglang Raya.

Baca juga: DKPP Serang terjunkan penyuluh pantau kesehatan hewan kurban

Petugas setiap hari mendatangi lokasi penjualan hewan kurban agar tidak beredar ternak yang terkena antraks karena bisa membahayakan kesehatan manusia.

Karena itu, masyarakat harus mengetahui hewan kurban yang kondisinya layak dikonsumsi dengan ciri-ciri sehat bulu dan matanya cerah, lincah, juga nafsu makannya cukup tinggi dan tidak memiliki luka-luka atau cacat pada tubuhnya.

Sedangkan ciri-ciri hewan terkena antraks adalah akan mengeluarkan darah dari semua lubang limpa.

"Kami minta warga agar tetap waspada hewan kurban dari Jawa Barat karena merupakan daerah endemik antraks," katanya menjelaskan.

Sementara itu, sejumlah penjual hewan kurban di Jalan Siliwangi Rangkasbitung Kabupaten Lebak mengaku bahwa ternak mereka sudah dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh petugas Disnakeswan setempat dan kondisinya sehat serta layak konsumsi.

"Kami menjamin hewan kurban di sini dalam kondisi sehat dan layak dikonsumsi serta tidak membahayakan bagi manusia," kata Gopur (60) seorang pedagang ternak domba di Jalan Siliwangi Rangkasbitung, Kabupaten Lebak.

Baca juga: Kebutuhan hewan kurban di Tangerang di proyeksi 35 ribu ekor



Pewarta: Mansyur suryana
Editor : Lukman Hakim

COPYRIGHT © ANTARA 2026