Lebak (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Lebak menargetkan tahun ajaran 2026/2027 para siswa Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) jenjang sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA) melaksanakan kegiatan belajar mengajar di gedung baru yang permanen.
"Sekarang gedung SRT direalisasikan pembangunanya di lahan seluas 8,8 hektare di Panggarangan yang di-launching (diluncurkan) peletakan batu pertama oleh Presiden Prabowo Subianto di Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan, 12 Januari 2026," kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Sosial Kabupaten Lebak Lela Gifty Clerita di Lebak, Provinsi Banten, Kamis.
Pembangunan gedung SRT permanen ini bagian dari program nasional yang dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia.
Pembangunan gedung permanen SRT di Kabupaten Lebak dilaksanakan sesuai rencana dengan target tahun ajaran baru 2026/2027 bisa digunakan.
Baca juga: Pemprov Banten bangun Sekolah Rakyat di Pandeglang, perluas akses pendidikan
Oleh karena itu, siswa rintisan Sekolah Rakyat tingkat SMA yang dipusatkan di Gedung Badan Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) Rangkasbitung juga Sekolah Rakyat SD dan SMP di Kompleks Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Lebak bisa mengisi gedung permanen, termasuk siswa baru yang direkrut Dinas Sosial setempat.
Gedung permanen SRT yang sedang dibangun itu, dilengkapi antara lain ruangan kelas untuk kegiatan belajar mengajar (KBM), asrama, ruangan makan, sarana prasarana agama, dan olahraga.
"Gedung SRT permanen itu dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan diharapkan rampung sesuai target yang ditentukan pemerintah," katanya.
Baca juga: Bangun dua sekolah rakyat, Pemprov Banten dapat alokasi Rp500 miliar
Ketua Koordinator Program Keluarga Harapan (PKH) Dinas Sosial Kabupaten Lebak Wahyu mengatakan minat warga setempat menjalani pendidikan Sekolah Rakyat di daerah ini cukup tinggi, ditandai banyak orang tua mendaftarkan anaknya sekolah di tempat itu.
Namun, pihaknya melakukan seleksi penerimaan siswa baru untuk tahun ajaran 2026/2027 mulai Februari 2026 seiring dengan pembangunan gedung permanen.
Proses seleksi siswa baru, baik SD, SMP, maupun SMA itu, antara lain dengan ketentuan calon siswa berasal dari keluarga Desil 1 dan 2, tidak terlibat judi daring, tidak memiliki pinjaman di bank, dan tidak memiliki kendaraan.
"Kami tahun ajaran baru menerima 300 siswa dari keluarga Desil 1 dan 2 agar ke depannya bisa menghapus mata rantai kemiskinan," katanya.
Baca juga: Pemkab Lebak optimistis Sekolah Rakyat bisa membentuk kemandirian
