Serang (ANTARA) - Gubernur Banten Andra Soni menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pendidikan agama sebagai identitas utama Provinsi Banten yang dikenal sebagai daerah sejuta santri dan seribu ulama.
“Provinsi Banten sejak dahulu sudah terkenal dengan sebutan daerah sejuta santri dan seribu ulama. Ulama-ulama besar Banten banyak mendirikan pondok pesantren seperti Syekh Nawawi Albantani, Syekh Asnawi Caringin, Syekh Mansyur, Syekh Abdul Karim dan Syekh Dimyati,” katanya dalam keterangannya di Kota Serang, Minggu.
Andra Soni sempat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul Ke-15 Tb A Ma’ani Rusdji di Yayasan Perguruan Islam Mathla'ul Anwar Linahdlatil Ulama (Malnu), Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Minggu.
Baca juga: Disdik Kota Tangerang libatkan Bunda PAUD wujudkan wajib belajar 13 tahun
Andra menyebut latar sejarah tersebut menjadi dasar komitmen Pemprov Banten memberikan perhatian serius pada lembaga pendidikan dan keagamaan. Dukungan diwujudkan antara lain melalui bantuan sarana dan prasarana pesantren serta program keagamaan yang memperkuat basis pendidikan masyarakat.
Ia juga menekankan peran Malnu sebagai lembaga pendidikan dengan sejarah panjang dalam penyebaran ajaran Islam bercorak ahlusunnah wal jamaah. “Saya berharap keberadaan lembaga pendidikan ini akan terus bertambah maju dengan sebuah grand design pendidikan pesantren,” ujarnya.
Selain itu, Andra menilai momentum maulid menjadi ajang memperkuat persaudaraan sesama umat serta membangun kecintaan terhadap bangsa dan Provinsi Banten.
“Ulama sebagai pewaris nabi memiliki peran penting dalam tatanan kehidupan masyarakat,” katanya.
Baca juga: Kadisnakertrans: pendidikan vokasi banyak keunggulannya untuk siap kerja
Ketua Umum PB Malnu Uuf Zaki Gufron menambahkan lembaga itu sejak 1970 telah berkontribusi terhadap kesejahteraan kiai di Pandeglang. “Dari terobosan itu, alhamdulillah NU sangat jaya di Pandeglang dan para kiainya hidup dengan sejahtera,” paparnya.
Ia juga mengingatkan Malnu pernah menjadi tuan rumah Mukhtamar NU Ke-13 tahun 1938 yang melahirkan terobosan penting, termasuk hadirnya dua perempuan NU, Nyai Djuaesih dan Siti Syarah, yang berpidato di depan para kiai.
“Dari situlah kemudian muncul gerakan perempuan yang mewarnai perjuangan NU sampai saat ini,” kata Uuf.
Baca juga: Gubernur Andra Soni: NU miliki peran strategis perkuat nilai keagamaan di Banten
