Di lini depan, Ole Romeny sedang dalam kepercayaan diri tinggi, dan bersiap melakukan selebrasi menegakkan kepala untuk keempat kalinya, setelah mencetak tiga gol dalam tiga laga pertamanya untuk sang Garuda.
Dari barisan pemain di Liga 1 Indonesia, pemain-pemain seperti Ricky Kambuaya, Yakob Sayuri, Egy Maulana Vikry, hingga Beckham Putra berkesempatan meneruskan penampilan apik mereka, setelah tampil memuaskan dalam kemenangan melawan China.
Inilah kelebihan yang harus dimanfaatkan Indonesia, guna menjegal Jepang yang bermain tanpa pemain-pemain utamanya. Jepang tetaplah Jepang, namun tentu bukanlah mereka yang ditemui di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, November tahun lalu, di saat "Godzilla" membuat "Gundala" kalah telak 0-4. Bukan juga Jepang yang membuat Indonesia mati kutu dan tak berkutik di Qatar pada 10 bulan sebelumnya.
Maka, bermain bagai anak-anak kecil yang bermain bola di desa-desa, tanpa takut salah, tanpa gugup, dan penuh keberanian, adalah yang mesti dilakukan Indonesia. Namun, jangan lupa bahwa Garuda memiliki cakar tajam. Jangan sampai tumpul, apalagi sengaja tak menerkam, hanya karena sebuah pertandingan yang sudah tak ada pengaruhnya lagi.
Sudah lama Indonesia tak berbicara banyak di hadapan Jepang. Terakhir kali mereka menahan Jepang (0-0) adalah pada 1989 (kualifikasi Piala Dunia 1990), sementara terakhir kali mereka mengalahkannya pada 1981 dengan skor 2-0 pada sebuah laga persahabatan.
Baca juga: Pemain Timnas Indonesia dijamu Presiden Prabowo di Kertanegara
