Tangerang Selatan (ANTARA) - PT Nusantara Infrastructure Tbk melalui entitas asosiasinya PT Margautama Nusantara (MUN) melibatkan sedikitnya 50 perempuan sebagai agen perubahan dalam meningkatkan kesadaran keselamatan berkendara.

Dengan mengambil semangat Hari Kartini di bulan April 2026, penguatan kesadaran keselamatan melalui ini dilakukan dalam program bertajuk “Nusantara She Drives Change”, sebuah inisiatif kolaboratif bersama pengelola Jalan Tol BSD, komunitas perempuan berkendara Queenrides, Kementerian Perhubungan dan Patroli Jalan Raya (PJR) Induk BSD.

"Program Nusantara She Drives Change ini merupakan salah satu langkah konkret kami dalam membangun budaya berkendara yang lebih aman, nyaman dan berkelanjutan. Program ini juga dirancang inklusif dengan membuka ruang partisipasi bagi peserta dari berbagai latar belakang, termasuk penyandang disabilitas," kata Head of Corporate Communication & CSR PT Nusantara Infastructure Tbk Indah D.P. Pertiwi di Tangerang, Minggu.

Baca juga: Penguatan wilayah aglomerasi Jabodetabekpunjur dinilai sangat mendesak

Ia bilang, bahwa perempuan merupakan bagian penting dari pengguna jalan yang memiliki peran strategis dalam mendorong perubahan perilaku berkendara yang lebih bertanggung jawab.

Kendati demikian, dengan hadirnya program She Drives Change diharapkan dapat mendorong praktik berkendara yang aman dan ramah lingkungan.

"Melalui kegiatan ini, perusahaan juga ikut berperan dalam menekan angka kecelakaan sekaligus memperluas akses edukasi keselamatan berkendara kepada berbagai kelompok salah satunya perempuan," ujarnya.

Baca juga: Waspadai penipuan tawaran kerja di grup Telegram

Berdasarkan data survei pihak internal Tol BSD, angka kecelakaan di Jalan Tol BSD terus menunjukkan tren penurunan dari tahun ke tahun.

Dimana, selama 2025, tingkat kecelakaan menurun sebesar 35 persen dari tahun sebelumnya, dengan total kejadian sebanyak 34 kasus. Dari berbagai kejadian, data operasional mengungkap bahwa 86 persen kecelakaan yang terjadi di Tol BSD disebabkan oleh faktor perilaku pengendara (human behavior). Sementara 14 persen sisanya berkaitan dengan kondisi kendaraan.

"Hal ini menegaskan, pentingnya edukasi yang berfokus pada perubahan perilaku dapat menjadi kunci utama peningkatan keselamatan berkendara," ungkapnya.

Dengan mengintegrasikan aspek keselamatan, keberlanjutan, dan inklusivitas, program ini diharapkan dapat menjadi model edukasi yang tidak hanya menekan angka kecelakaan, tetapi juga mendorong terciptanya sistem transportasi yang lebih aman, efisien, dan setara bagi seluruh lapisan masyarakat.

"Keselamatan berkendara tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang perilaku dan kesadaran pengguna jalan. Melalui pendekatan inklusif yang melibatkan perempuan sebagai agen perubahan, kami berharap dampak edukasi ini dapat meluas ke lingkungan yang lebih besar," kata dia.

Baca juga: Kebiasaan makan bersama bantu tingkatkan asupan nutrisi anak



Pewarta: Azmi Syamsul Ma'arif
Editor : Bayu Kuncahyo

COPYRIGHT © ANTARA 2026