Serang (ANTARA) - Gubernur Banten Andra Soni menyatakan terus mengawal pengerasan jalan di wilayah terdampak bencana setelah hujan ekstrem, sekaligus memperkuat upaya mitigasi banjir menyusul tingginya curah hujan dan bencana hidrometeorologi yang melanda berbagai daerah di provinsi itu.

“Seperti yang pernah kami janjikan, pengerjaan untuk pengerasan jalan sedang kita lakukan, karena itu kan wilayah hutan lindung, masuk ke taman nasional,” kata Gubernur Andra Soni di Kota Serang, Rabu.

Ia menjelaskan pengerasan jalan dilakukan melalui koordinasi lintas instansi, termasuk dengan pemerintah kabupaten dan pihak terkait, agar akses menuju lokasi terdampak dapat dimanfaatkan secara maksimal.

“Kenapa? Ya kan harus ada jalannya. Kalau jalannya janji kami, jalannya sedang dikerjakan,” ujarnya.

Baca juga: Gubernur Banten resmikan Jalan Kopi untuk perkuat akses industri Jatake

Gubernur menyebutkan anggaran pengerasan jalan tersebut sekitar Rp400 juta dan telah dimulai sejak tahun lalu, namun sempat terkendala kelangkaan material sehingga dilanjutkan pada 2026.

Selain akses jalan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten juga mengoordinasikan penanganan land clearing dengan pemerintah Kabupaten Lebak dan unsur penanggulangan bencana. Ia menegaskan pengerasan jalan menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi sebagai tahapan awal sebelum pembangunan jalan permanen.

“Jadi jalan itu nanti dikeras, sampai betul-betul siap untuk dibangun jalan, karena ada tahapannya,” kata Gubernur Andra.

Terkait bencana banjir, Gubernur Andra Soni menyebut cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi telah memicu bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah, tidak hanya di Banten tetapi juga secara nasional.

“Hidrometeorologi kan betul-betul terjadi curah hujan sangat tinggi. Ini mengingatkan kita bahwa drainase kita harus mulai dipikirkan, terutama drainase perkotaan,” ujarnya.

Baca juga: Optimalkan Program Banten Sehat, Andra Soni serap aspirasi rumah sakit

Ia mencontohkan banjir berulang di wilayah Padarincang dan Cilegon yang dipicu kombinasi curah hujan tinggi, perubahan fungsi lingkungan, serta terganggunya aliran sungai.

Sebagai langkah jangka pendek, lanjutnya, Pemprov Banten melakukan normalisasi sungai dan danau dengan berkoordinasi bersama pemerintah kabupaten dan balai teknis terkait.

“Jangka pendeknya yang kita lakukan adalah normalisasi, dengan kemampuan kita yang ada dan koordinasi dengan balai-balai yang menangani infrastruktur,” ujar Andra Soni.

Ia menyebut pengerukan danau dan aliran sungai menuju danau telah dilakukan di sejumlah lokasi, meski harus melalui koordinasi ketat karena berada di wilayah konservasi.

“Karena itu wilayah konservasi, tentu kita harus bersama-sama dengan balai konservasi alam,” katanya.

Ke depan Pemprov Banten berencana memperkuat kapasitas penanganan banjir dengan pengadaan alat berat, termasuk ekskavator amfibi, agar normalisasi dapat dilakukan secara berkelanjutan saat musim kemarau.

Ia menegaskan penanganan banjir harus dilakukan secara berkelanjutan agar dampak bencana di tahun-tahun mendatang tidak semakin besar.

Baca juga: Gubernur Andra Soni dukung rencana Munas PPBNI digelar di Banten



Pewarta: Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor : Bayu Kuncahyo

COPYRIGHT © ANTARA 2026