Lebak (ANTARA) - Kabupaten Lebak, Provinsi Banten surplus beras sebanyak 261.211 ton pada 2025 dan mencukupi untuk kebutuhan konsumsi masyarakat di daerah itu hingga 20 bulan ke depan.
"Kita produksi beras 2025 surplus, karena meningkatnya produktivitas pertanian padi di 28 kecamatan ," kata Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Deni Iskandar di Lebak, Selasa.
Pencapaian surplus beras tersebut, karena kerja keras semua pihak mulai penyuluh, kelompok tani dan didukung kolaborasi lintas sektor baik pemerintah daerah dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) setempat.
Selain itu juga petani setelah panen, kembali melakukan gerakan percepatan tanam, terlebih curah hujan cukup tinggi.
Kebanyakan petani di sini menggarap areal persawahan tadah hujan atau sawah "geluduk", artinya petani bisa melakukan tanam jika musim hujan.
Baca juga: Cek stok beras, Penasihat presiden tinjau Gudang Bulog DKI Banten
Berdasarkan laporan Dinas Pertanian Kabupaten Lebak produksi beras dari Januari - Desember 2025 sebanyak 402.610 ton dengan penduduk 1,4 juta jiwa dan konsumsi beras untuk masyarakat 12.854 ton per bulan atau 154.253 ton per tahun.
Sementara penyerapan beras sampai Desember 2025 sebanyak 141.399 ton, sehingga surplus 261.211 ton surplus 20 bulan.
"Kita sudah beberapa tahun terakhir ini menjadi daerah surplus beras dan menjadi bukti nyata kemajuan sektor pertanian," kata Deni.
Deni mengatakan, Kabupaten Lebak merupakan daerah lumbung pangan di Provinsi Banten dan bisa memasok ke luar daerah, seperti Jakarta, Bogor, hingga Lampung.
Selama ini, Kabupaten Lebak memiliki luas baku sawah mencapai 52.000 hektare dengan Indeks Pertanaman (IP) tiga kali musim tanam dalam setahun.
Baca juga: Bulog pastikan stok beras di Serang dan Cilegon aman hingga Ramadhan
Selain itu, Bupati Lebak Hasbi Asyidiki melalui program "Ruhay" melakukan intervensi untuk meningkatkan produktivitas beras di 28 kecamatan melalui optimalisasi dan perluasan areal tanam padi, peningkatan indeks pertanaman (IP) dan perbaikan sarana irigasi guna menjamin ketersediaan air untuk areal persawahan.
Disamping itu juga penyaluran bantuan sarana produksi (saprodi) pertanian, di antaranya benih unggul, alat mesin pertanian, pompa air dan memberikan pendampingan teknis kepada petani melalui penyuluh pertanian.
Begitu juga sinergi lintas sektor dengan unsur Forkopimda terus diperkuat untuk mengawal program ketahanan pangan, disertai penguatan kelembagaan kelompok tani agar lebih mandiri dalam pengelolaan produksi hingga pascapanen.
"Bantuan penyaluran pertanian itu guna meningkatkan hasil produksi panen dan mendorong kesejahteraan petani," kata lelaki Alumni Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Baca juga: Dinas Pertanian Lebak jamin persediaan beras melimpah
