Jakarta (ANTARA) - Pakar kesehatan mental dari Korea Selatan menekankan pentingnya tidur sebagai fondasi kesehatan dan perlu diprioritaskan di atas kehidupan produktif.
Ditulis laman The Korea Times, Rabu, psikiater di Rumah Sakit Anam Universitas Korea Prof. Cho Cheol-hyun, mengatakan memaksakan tubuh hingga batas maksimal justru meningkatkan risiko penyakit fisik dan mental.
"Tidur bukanlah pilihan. Mengorbankannya demi produktivitas dapat berdampak buruk, baik secara mental maupun fisik," katanya.
Baca juga: Catat, pola tidur malam ternyata pengaruhi tingkat aktivitas fisik esok hari
Ia mengatakan di Korea Selatan banyak anak muda yang merujuk pada kehidupan yang penuh disiplin diri ekstrem, yang sering ditampilkan di media sosial dengan bangun sebelum matahari terbit, pergi ke pusat kebugaran, dan memanfaatkan setiap momen dengan maksimal.
Namun, karena gelombang panas dan malam-malam tanpa tidur terus berlanjut, Cho memperingatkan bahwa mencoba mengganti tidur yang hilang dengan tidur siang sebenarnya dapat memperburuk gangguan tidur.
Ia juga menepis efektivitas suplemen melatonin yang dijual bebas. Tidak seperti melatonin resep, yang meniru ritme hormon tidur alami tubuh, suplemen kesehatan sering kali menyebabkan lonjakan dan penurunan cepat kadar melatonin, sehingga tidak efektif untuk sebagian besar kelompok usia.
"Suplemen tersebut hanya memiliki sedikit dampak nyata terhadap tidur. Tidur siang mengganggu keseimbangan ini, menyebabkan siklus insomnia yang tak kunjung usai," ujarnya.
Baca juga: Atur ulang pola tidur guna bangkitkan ritme kerja usai liburan
Ketika ketegangan atau kecemasan berlanjut di malam hari, obat-obatan seperti benzodiazepin atau antidepresan dapat membantu, tetapi Cho memperingatkan agar tidak terlalu bergantung.
Cho menekankan bahwa gangguan tidur dapat berkontribusi pada berbagai masalah kesehatan, mulai dari kanker payudara dan gangguan endokrin hingga tekanan darah tinggi, demensia, dan gangguan suasana hati.
Bahkan komunitas psikiatri kini memperlakukan insomnia bukan hanya sebagai gejala, tetapi sebagai gangguan kecemasan yang berdiri sendiri.Ia mengatakan untuk hindari juga penggunaan alkohol sebagai obat tidur karena akan mengganggu siklus tidur dan istirahat yang dihasilkan tidak maksimal.
Baca juga: Ini kiat mengatur siklus tidur agar dapat bangun tanpa alami pusing
Pewarta: Fitra AshariEditor : Bayu Kuncahyo
COPYRIGHT © ANTARA 2026