Serang (AntaraBanten) - Pupulasi kerbau di Provinsi Banten turun, diantaranya akibat tingkat pemotongan hewan ternak besar itu semakin tinggi.
"Dalam dua tahun terakhir memang terjadi penurunan populasi kerbau di Banten, dan penyebabnya karena tingkat pemotongan meningkat," kata Kepala Bidang Produksi Peternakan Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Banten Asep Nugraha di Serang, Rabu.
Selain itu, kata dia, tingkat kelahiran kerbau juga relatif rendah akibat ternak sulit bunting dan tidak sebanding dengan jumlah yang dipotong.
Penyebab lainnya, lanjut dia, karena adanya pengeluaran kerbau yang belum bisa dikontrol serta terjadi serangan penyakit menular di daerah sentra produksi, yakni Kabupaten Lebak dan Pandeglang.
Ia menjelaskan, pada 2011 populasi kerbau di daerah itu mencapai 153.204 ekor, dan pada 2012 berkurang menjadi 123.143 ekor, kemudian 2013 kembali turun menjadi 98.710 ekor.
Asep juga menyatakan, setiap tahun kebutuhan/tingkat konsumsi daging kerbau di Provinsi Banten terus meningkat, dan ini menguntungkan para peternak karena bisa memperoleh pendapatan cukup besar.
Tingginya tingkat konsumsi tersebut, kata dia, menjadi penyebab banyaknya kerbau yang dipotong, sementara tingkat kelahiran relatif sedikit.
Dalam tiga tahun terakhir, lanjut dia, rasio kelahiran kerbau jauh dibandingkan tingkat pemotongan.
Pada 2011, lanjut dia, kerbau yang dipotong mencapai 26.242 ekor sementara yang lahir hanya 19.343 ekor, 2012 pemotongan 28.159 ekor dan kelahiran 19.231 ekor, 2013 pemotongan 34.147 ekor, kelahiran 22.742 ekor.
Mengenai produksi kerbau terbanyak, menurut dia, di Kabupaten Lebak, Pandeglang dan Serang, dengan populasi pada 2013 masing-masing 32.148 ekor, 23.971 ekor dan 25.621 ekor.
