Tangerang (ANTARA) - Pusat Pengkajian Komunikasi dan Media (P2KM) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) UIN Jakarta bekerjasama dengan Yayasan Cendekia Muda Madani menggelar acara bedah buku "Mengarungi Jejak Merajut Asa: 75 Tahun Indonesia-Tiongkok".
Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) UIN Jakarta Gun Gun Heryanto di Tangerang Rabu mengatakan pentingnya narasi yang koheren di karya tulis agar menghasilkan dampak signifikan dalam konteks kebijakan publik maupun diplomasi komunikasi.
"Tanpa narasi yang koheren, sulit bagi sebuah gagasan untuk berdampak luas. Buku ini substansial karena menyentuh geopolitik Indonesia dan Tiongkok yang sangat relevan untuk dipahami secara kritis,” kata Gun Gun Heryanti dalam acara bedah buku "Mengarungi Jejak Merajut Asa: 75 Tahun Indonesia-Tiongkok" di Teater Lantai 2 FDIKOM UIN Jakarta, Rabu.
Baca juga: UIN Syarif Hidayatullah gelar bedah buku pertautan Muslim Indonesia-Tiongkok
Buku "Mengarungi Jejak Merajut Asa: 75 Tahun Indonesia-Tiongkok" diterbitkan oleh IRCiSod dan diberikan kata pengantar dari Menteri Luar Negeri RI Sugiono.
Buku ini tidak sekedar mendeskripsikan ihwal hubungan diplomatik Indonesia-Tiongkok, tetapi secara juga menunjukkan kedua negara di Asia ini perlu memperkokoh kerjasamanya di berbagai bidang sebagai upaya memperkuat politik regional sekaligus menjadi penyeimbang geopolitik global.
Buku ini bisa dikatakan komprehensif dari A- Z dengan mengulas isu mulai dari politik ekonomi hingga kebudayaan; dari era Soekarno hingga Prabowo; dari KAA Bandung hingga BRICS, dari koleksi pers Melayu-Tionghoa higgga China Space Masjid Isitiqlal; dan dari isu anti-imperialisme hingga Perang tarif Trump.
Gun Gun Heryanto juga memberikan apresiasi terhadap keberlanjutan karya tulis yang dihasilkan setiap tahun karena memberikan gambaran tentang kemajuan Tiongkok di bidang ekonomi dan teknologi. “Ketika kita bicara geopolitik, saat ini Tiongkok memiliki peran sentral di percaturan global”, kata Gun Gun
Baca juga: UMJ bedah buku PRAKSIS PANCASILA
Gun Gun menambahkan bahwa buku dapat menjadi alat konstruksi sosial yang kuat, terutama bila digunakan untuk membentuk kesadaran publik secara strategis.
“Buku ini bisa menjadi bentuk inokulasi komunikasi untuk mencegah mobilisasi yang destruktif karena didasarkan pada kesadaran, bukan agitasi. Inilah kekuatan literasi,” ujarnya.
Direktur Eksekutif P2KM UIN Jakarta Deden Mauli Darajat mengatakan kehadiran teknologi ramah lingkungan asal Tiongkok seperti kendaraan listrik UIN Jakarta sebagai bagian dari inisiatif green campus. "Kita sedang menyaksikan perubahan besar dalam dunia transportasi dan energi," ujarnya.
Wakil Dekan FDIKOM UIN Jakarta Muhtadi menambahkan Tiongkok adalah negara yang berhasil menunjukkan tata kelola pemerintahan yang kuat melalui kebijakan tegas, termasuk pemberantasan korupsi dengan hukuman berat.
“Tiongkok bisa menjadi contoh bagaimana sebuah negara mengatur ekonominya untuk memastikan kesejahteraan rakyat,” katanya.
Baca juga: Sejarawan Mufti Ali daftar sebagai calon rektor UIN Banten
Penulis Buku, Budy Sugandi mengatakan bahwa proyeksi ekonomi global yang menempatkan Tiongkok dan Indonesia sebagai kekuatan besar di masa depan.
“Kerja sama strategis Indonesia-Tiongkok telah terjalin kuat, termasuk dalam proyek-proyek besar seperti kereta cepat, infrastruktur, dan energi terbarukan”, kata Budy yang juga merupakan Wasekjen PP GP Ansor dan alumni Doktor Southwest University Tiongkok.
Dari aspek politik, dosen FISIP UIN Jakarta, Ali Rif’an menyinggung terkait kemitraan startegis pemerintah Indonesia dengan Tiongkok yang semakin mesra.
“Presiden Prabowo menganggap Tiongkok sebagai mitra penting, hal itu ditunjukkan dengan memilih Tiongkok sebagai destinasi kunjungan kenegaraan perdana”, papar Ali yang juga Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia.
Selain aspek ekonomi, pembicara lainnya Nurul Hidayatul Ummah yang merupakan dosen FDIKOM UIN Jakarta dan Co-chair Y20 (G20) mengungkapkan bahwa pentingnya menjaga nilai-nilai ketimuran di tengah pengaruh budaya barat.
Buku ini dianggap sebagai kontra narasi terhadap dominasi nilai barat, sekaligus menunjukkan bahwa teknologi barat dapat digunakan untuk memperkuat budaya timur.
Menggunakan pendekatan teori framing dan konstruksi sosial, buku ini menunjukkan perubahan citra Tiongkok dari ancaman menjadi mitra strategis. "Hubungan diplomatik yang dulu penuh ketegangan kini berubah menjadi kerja sama yang saling menguntungkan," ujarnya.
Baca juga: Pengamatan hilal Ramadhan dari UIN Banten terkendala cuaca
