Tangerang (ANTARA) - Sejumlah delegasi akademisi Indonesia melakukan kunjungan berbagai institusi Turki, termasuk Hayrat Foundation dan organisasi jejaringnya, untuk penguatan Islam Wasathiyah, kolaborasi riset, hingga pengembangan filantropi global.
"Ini adalah upaya internasionalisasi pendidikan tinggi Indonesia. Kunjungan ini tidak sekadar seremoni diplomasi, tetapi diarahkan pada aksi nyata kerja sama akademik, filantropi, dan diplomasi pendidikan untuk memperkuat posisi Indonesia di jaringan keilmuan dunia Islam global," kata Prof Gun Gun Heryanto dari UIN Jakarta dalam keterangan yang diterima di Tangerang, Selasa.
Selain itu ada akademisi lintas kampus yang ikut melakukan kunjungan antara Dr. Muhtadi dan Dr. Deden Mauli Darajat dari UIN Jakarta, Dr. Asep Shodiqin dari UIN Bandung dan Dr. Tata Septayuda Purnama dari Universitas Al-Azhar Indonesia.
Baca juga: UIN Jakarta dan Unpam ajak generasi muda tingkatkan literasi media era digital
Prof Gun Gun menambahkan salah satu agenda penting yaitu diskusi dengan International Student Institution pimpinan Celalettin Günaydn.
Pertemuan ini menyoroti potensi program bersama, seperti kolaborasi riset internasional, pertukaran dosen dan mahasiswa, international scientific mobility, konferensi akademik antar-negara.
"Internasionalisasi adalah keharusan agar riset Indonesia berdaya saing. Pertemuan ini membuka peluang kunjungan balasan ke Indonesia, memperluas jejaring akademik pada isu, moderasi beragama, pendidikan multikultural, dan penguatan generasi muda," katanya.
Dr. Deden Mauli Darajat menambahkan kunjungan ini juga menunjukkan moderasi beragama bukan lagi isu domestik Indonesia, tetapi menjadi kontribusi strategis bagi dunia Islam.
Turki dan Indonesia sama-sama menegaskan bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, pendidikan adalah benteng melawan ekstremisme, dan kolaborasi antarnegara diperlukan untuk stabilitas global.
Baca juga: UIN Jakarta-Abu Dhabi kerjasama perkuat perdamaian dunia
Diskusi Islam Wasathiyah berfungsi sebagai soft power diplomacy yang memperkuat citra Indonesia sebagai pusat moderasi Islam dunia.
Dalam hal penguatan global academic influence disepakati bersama untuk kolaborasi yaitu kerja sama riset, dan program pergerakan mahasiswa, serta publikasi internasional.
Hal ini akan meningkatkan reputasi akademik Indonesia di panggung ilmiah internasional. Semua ini sejalan dengan visi kampus kelas dunia dan optimasi peran kampus dalam jejaring global.
"Kunjungan ini juga menegaskan bahwa pendidikan, riset, dan kemanusiaan, adalah tiga pilar penting yang dapat memperkuat hubungan Indonesia–Turki sekaligus memperluas kontribusi Indonesia bagi umat dan kemajuan peradaban global," kata dia.
Baca juga: Pesan Rektor UIN Jakarta pada mahasiswa yang sampaikan aspirasi
Diskusi lanjutan dilakukan dalam FGD bersama Persatuan Guru Turki yang dipimpin Yusuf Irmak membahas tantangan global pendidikan Islam antara lain terkait radikalisme dan intoleransi, penguatan islam ramah dan berperadaban, polarisasi sosial, memperkuat kohesi bangsa, peningkatan kapasitas dai dan pendidik, globalisasi pemikiran, dan dialog antarperadaban.
Delegasi Indonesia memaparkan praktik moderasi di kampus-kampus Tanah Air, sementara pihak Turki menyampaikan visi universal Islam yang damai, berkeadilan, dan humanis.
"FGD ini menghasilkan kesepakatan penyusunan peta jalan kerja sama akademik, termasuk, riset kolaboratif bidang dakwah dan studi Islam, pertukaran dosen dan mahasiswa, konferensi tahunan moderasi beragama," kata Dr. Tata Septayuda Purnama.
Baca juga: UIN Jakarta komitmen jadi pusat pengembangan gagasan pendidikan
