Serang (ANTARA) - Lusiana mendirikan HashMicro, perusahaan penyedia piranti lunak Perencana Sumberdaya Perusahaan atau Enterprise Resource Planning (ERP) yang saat dibutuhkan perusahaan di Indonesia untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.
"Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) beberapa tahun terakhir mendorongnya untuk mendirikan HashMicro bersama mitra bisnis asal Singapura," kata Lusiana yang menimba ilmu di The London School of Economics and Political Science (LSE) dalam keterangan tertulis, Rabu.
Baca juga: BNI Java Jazz 2022 jadi momentum untuk tingkatkan literasi transaksi digital
Lusiana yang juga menjabat Direktur Pengembangan Bisnis mengatakan HashMicro siap untuk bersaing dengan penyedia industri ERP lain yang sebagian besar masih didominasi perusahaan asing.
Tingginya minat masyarakat menerapkan ERP, membuat HashMicro mampu menggeser eksistensi perusahaan ERP asing di Indonesia.
"Hal ini disebabkan karena kualitas kami setara dengan produk ERP asing dengan harga lebih terjangkau dan fleksibilitas yang didapatkan perusahaan dalam menyesuaikan software dengan kebutuhan mereka serta budaya kerja di Indonesia," kata Lusiana.
Dalam membimbing lebih dari 500 personel di HashMicro, Lusiana sangat mementingkan kesejahteraan timnya. Selain dari paket pekerjaan yang kompetitif, HashMicro menjunjung kesetaraan.
"Semua berperan dalam membantu HashMicro mencapai milestone, termasuk perempuan yang memegang peran krusial–mulai dari mereka yang memegang key positions di perusahaan kami hingga anggota lain di dalam tim," ujar Lusiana.
Ia mengatakan, HashMicro selalu mementingkan keahlian pekerjanya dan tidak ada bias gender dalam pengambilan keputusan, termasuk ketika melakukan perekrutan.
Lusiana juga berhasil membawa industri ERP lokal untuk bersaing di pasar ERP internasional dan menjadikan HashMicro sebagai provider Cloud-ERP terkemuka di Indonesia dan Singapura.
Hingga saat ini HashMicro telah melayani perusahaan ternama seperti The Coffee Bean & Tea Leaf, Wendy’s, Abbott Laboratories, Astra Tol Nusantara, Askrindo, Sompo Insurance, Bank of China, dan masih banyak lagi.
Bahkan, Lusiana bersama tim sedang melebarkan sayap ke negara lain di Kawasan Asia Pasifik.
"Sebagai seorang perempuan, bekerja di industri teknologi memiliki tantangannya sendiri. Namun, dari tantangan tersebut justru perempuan harus bisa mencari dan menciptakan peluang untuk berkembang," tutup Lusiana.
