Jakarta (Antara News) - PT Cowell Development Tbk berencana menjalin kerja sama dengan sejumlah mitra untuk mengolah sejumlah lahan yang berlokasi di Cikarang Jawa Barat dan di Jakarta Selatan.
"Kerja sama pengelolaan lahan ini dalam rangka menambah bank tanah (land bank) perusahaan," kata Direktur PT Cowell Development Tbk Novi Imelly di Jakarta, Senin, usai Rapat Umum pemegang Saham.
Novi mengatakan, rencana ini masih dalam pembahasan dan belum final, sehingga belum bisa dipastikan apakah nantinya akan dibangun hunian atau komersial di atas kedua lahan tersebut.
Novi memperkirakan dibutuhkan dana Rp20 miliar sampai Rp50 miliar untuk kerja sama lahan yang masing-masing memiliki luas 1,5 hektare di komplek Deplu dan 13 hektare di Cikarang.
Corporate Secretary PT Cowell Development Tbk Darwin F Manurung mengatakan, untuk pengembangan usaha keseluruhan proyek properti perseroan tahun ini, Cowell mengalokasikan dana belanja modal (capex) sebesar Rp320 miliar, di antaranya untuk menambah bank tanah, serta mengembangkan cluster baru di proyek properti Cowell lainnya, seperti Komplek Laverde di Serpong, Tangerang Selatan dan Borneo Paradiso di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Belanja modal tahun ini tidak sebesar tahun lalu. Hal itu karena tahun lalu Cowell telah mengalokasikan belanja modal untuk pekerjaan infrastruktur proyek mereka di Kalimantan Timur dan Serpong yang saat ini telah selesai pembangunannya.
Selain upaya penambahan cadangan lahan, saat ini Cowell tengah menyelesaikan pembangunan tahap dua proyek hunian Borneo Paradiso di atas lahan seluas 50 hektar, setelah pada tahun 2012 menyelesaikan pembangunan tahap satu seluas 100 hektare.
"Kami mengembangkan dua klaster baru pada tahun ini yang menyasar segmen menengah atas, sejak 2009 hingga kini total penjualan Borneo Paradiso di Balikpapan, mencapai 783 unit rumah dan ruko," ujar dia.
Sedangkan Laverde di Serpong Banten dibangun di atas lahan seluas 12 hektar terdiri empat klaster yang di dalamnya telah dibangun 399 unit rumah dan 57 unit ruko, saat ini telah terjual 327 rumah dan ruko senilai Rp303 miliar, kata Novi.
Sementara untuk gedung tinggi, perseroan melalui anak usaha telah menyelesaikan pembangunan apartemen Westmark di kawasan Tanjung Duren Jakarta Barat yang telah memasuki tahap serah terima ke konsumen.
Lebih jauh Darwin mengatakan, sebelumnya perusahaan pada Desember 2012 telah melakukan penawaran umum terbatas sebesar 84,5 persen sehingga meraih dana Rp905,5 miliar.
Cowell, kata Darwin, mengalokasikan 99 persen dana penawaran umum untuk mengakuisisi saham PT Plaza Andika Lestari, sedangkan sisanya untuk modal kerja proyek di Balikpapan Kalimantan Timur dan Serpong Banten.
Melalui akuisisi PT Plaza Adika Lestari maka perusahaan menjadi pengelola pusat perkantoran dan pusat belanja Atrium Senen.
Hingga Maret 2013 perseroan mencatat penjualan Rp64,3 miliar naik 7,54 persen, laba usaha Rp22,6 miliar naik 86,34 persen, laba bersih Rp11.2 miliar naik 16,84 persen.
Novi mengatakan, prospek sektor properti sampai saat ini masih bagus. Ia tidak terlalu khawatir akan munculnya "gelembung" properti.
"Indikasinya masih banyak segmen menengah di Indonesia yang belum memiliki rumah, kemudian kalau yang disinggung tingkat bunga KPR mulai naik, banyak dari pembeli yang menggunakan fasilitas tunai bertahap yang disediakan pengembang," ujar Novi.
Bahkan, kata Novi, harga produk Cowell setiap tahun mengalami kenaikan sehingga pembeli juga diuntungkan. Seperti di Borneo harga tahun 2012 baru 1,8 juta per meter persegi kini menjadi 2,5 juta per meter persegi (naik 30 persen). Sedangkan di Serpong harga tanah naik dua kali lipatnya. Pada tahap pengembangan awal, Cowell menjual seharga Rp4,5 juta per meter persegi maka saat ini harganya telah mencapai Rp8 juta per meter persegi atau naik hampir dua kali lipat.
"Saya kira properti masih menjadi investasi yang menarik dan menguntungkan di Indonesia," ujar Novi.
