Serang (ANTARABanten) - Pemkab Serang, Provinsi Banten, memberlakukan status darurat untuk Sungai Ciujung dan melakukan beberapa langkah agar pencemaran yang menyebabkan air Ciujung berwarna hitam pekat tidak bertambah parah.


Wakil Bupati Serang Rt Tatu Chasanah mengatakan, di antara langkah-langkah tersebut  adalah menekan perusahaan untuk memperbaiki kualitas limbah yang dibuang ke Sungai Ciujung.

Khusus untuk PT Indah Kiat Pulp and Paper, Pemkab Serang menetapkan agar Indah Kiat membuang limbah ke lagon atau tempat penampungan air yang dimiliki Indah Kiat sementara waktu sampai debit air Sungai Ciujung normal.

"Kajian tim ahli untuk pencemaran Ciujung akan tetap berjalan. Tadi Indah Kiat menyatakan bahwa mereka sudah menurunkan produksi limbah sampai 40 persen," ujarnya.

Ia menyatakan telah membentuk tim untuk mengantisipasi krisis air bersih di masyarakat Serang Utara melibatkan Asda II Tb Entus Mahmud) yang menjadi koordinator dibantu Agus Erwana staf Ahli Bupati Serang Bidang Pemerintahan.

Hadir dalam rapat tersebut Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Kabupaten Serang Anang Mulyana, Dirut PDAM Tirta Al Bantani Ahmad Rohendi, Humas PT IKPP Arif Mahdali, Manajer Perencanaan PT IKPP Susilo Bambang Yuwono, dan pejabat pemkab lainnya.

Tatu mengatakan, langkah tersebut diambil selain agar Ciujung tidak bertambah parah, juga agar menghindari tindakan yang tidak diinginkan dari masyarakat yang dirugikan atas pencemaran Ciujung. "Tadi pagi saya dapat informasi bahwa masyarakat akan bergerak ke Indah Kiat. Saya tidak mau itu terjadi," kata Tatu.

Anang mengatakan, sejak sebulan lalu debit Ciujung sudah nyaris nol dan tidak mengalir sama sekali. Jadi, ketika limbah pabrik dibuang ke Ciujung, maka otomatis isi Sungai Ciujung adalah limbah. Maka tak heran, kata Anang, jika air Sungai Ciujung tidak bisa digunakan oleh masyarakat.

Anang mengatakan, ada sembilan perusahaan di Kabupaten Serang yang membuang limbah ke Sungai Ciujung dimana PT Indah Kiat mengambil porsi pembuang limbah terbesar sampai 43 ribu meter kubik per hari. "Kita juga akan panggil perusahaan lain selain Indah Kiat," kata Anang seraya mengatakan, ada 19 desa yang terdampak dari pencemaran Ciujung.

Kepala Desa Walikukun, Kecamatan Carenang, Asep Fathurrahman mengatakan bahwa Walikukun termasuk desa yang terdampak pencemaran Ciujung paling parah dibandingkan desa lainnya. "Masyarakat sudah emosi dan mereka sudah membuat jaringan untuk menduduki Indah Kiat," kata Asep.

Asep mengatakan, karena air Sungai Ciujung tidak bisa digunakan, warga di desanya harus pergi ke desa tetangga hanya untuk mencuci menggunakan rakit.

Asep mengatakan bahwa sebelum Lebaran, warga desanya mendapatkan bantuan air bersih dari Indah Kiat sebanyak lima tangki. Tetapi, itu, kata Asep belum mencukupi dan nyaris membawa masalah baru karena kualitas air yang tidak terlalu baik.

"Saya minta pemkab untuk mengundang perwakilan masyarakat di desa saya dan yang lain agar mereka mengetahui duduk persoalan dan solusi yang ditempuh pemerintah," kata Asep.

Asep mengakui bahwa ada pabrik lain selain IKPP yang membuang limbah ke Ciujung. Tetapi kata Asep, kualitas air Ciujung menghitam setelah melewati pabrik Indah Kiat. Dan itu oleh masyarakat diterjemahkan bahwa Indah Kiat menjadi penyebab utama pencemaran Ciujung.  

Salah satu direksi PT IKPP Kragilan, Serang, Susilo Bambang Yuwono meminta pemerintah tidak menyimpulkan begitu saja bahwa IKPP menjadi penyebab pencemaran utama Ciujung. "Meski limbah IKPP paling banyak, tapi masih ada perusahaan lain juga," katanya.

Meski demikian, Susilo mengaku setuju dengan langkah penanganan darurat Ciujung, termasuk dengan memasok air bersih kepada masyarakat.

Susilo pun menyatakan bahwa IKPP bersedia untuk membantu membangun saluran air bersih yang sekaligus bisa mengaliri banyak desa semacam pembuatan sumur dalam.


: Ganet Dirgantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026