Tim Penggerak (TP) Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kota Tangerang, Banten, kembali mengoptimalkan kunjungan ke wilayah sebagai upaya menekan angka stunting

“Setelah libur panjang di bulan suci Ramadan, kami akan kembali melakukan kunjungan ke wilayah, salah satunya ke posyandu. Hal ini dilakukan sebagai upaya menekan angka stunting di Kota Tangerang. Semoga saja tidak ada temuan baru selama satu bulan ini,” kata Pj TP PKK Kota Tangerang Zuraidiati Nurdin di Tangerang, Rabu.

Zuraidiati pun mengungkapkan TP PKK Kota Tangerang juga akan mengadakan beberapa lomba, seperti Festival Pangan Lokal Beragam Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA) berkolaborasi bersama Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kota Tangerang.

"Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengedukasi masyarakat dalam pemahaman tentang meningkatkan kualitas konsumsi makanan sehingga keluarga di Kota Tangerang hidup sehat dan dapat menekan angka stunting," katanya.

Baca juga: Cegah stunting, Pemprov Banten optimalkan peran PKK

Ketua Bidang I PKK Kota Tangerang Yayat Sugiarti Herman menambahkan pada Februari 2024 telah dilaksanakan pengenalan terkait B2SA bagi kader PKK dengan mengundang pemateri dari Badan Pangan Nasional (Bapanas).

“Dari kegiatan tersebut diperoleh informasi jika sumber karbohidrat tidak hanya dari beras atau nasi saja. Namun juga bisa diganti dengan sagu, jagung, singkong, sukun, sorgum atau biji-bijian, serta umbi-umbian lainnya. Tak hanya menjadi sumber karbohidrat, namun juga kaya akan serat dan banyak kandungan vitamin yang baik untuk tubuh,” kata Yayat.

Penjabat (Pj) Wali Kota Tangerang Nurdin mengatakan di periode November 2023 stunting di Kota Tangerang mencapai 6,2 persen (e-PPGBM). Hal tersebut merupakan kerja keras seluruh pihak terutama para kader yang terjun langsung ke lapangan.

Ia pun meminta kepada TPPS dan para kader agar dapat lebih memasifkan sosialisasi dan edukasi serta pendampingan pada keluarga yang terdapat anak stunting.

"Perkuat dan perluas lagi untuk pendataannya dan tolong didampingi serta diedukasi agar keluarga yang tidak terima anaknya dikatakan stunting menjadi paham, dan dapat terbuka sehingga stigma negatif soal stunting tersebut dapat segera hilang, dan upaya penanganan stunting pun bisa berjalan dengan optimal," ujarnya.

Baca juga: Bantu tekan inflasi, PKK Kota Tangerang tanam 5.000 bibit cabai

Pewarta: Achmad Irfan

Editor : Bayu Kuncahyo


COPYRIGHT © ANTARA News Banten 2024