Minggu, 25 Juni 2017

Ewindo Bekali Petani Hortikultura Dengan Teknologi Informasi

id petani sayuran
Ewindo Bekali Petani Hortikultura Dengan Teknologi Informasi
Managing Director PT East West Seed Indonesia (Ewindo) Glenn Pardede (kanan) bersama Dekan Sekolah Ilmu & Teknologi Hayati ITB I Nyoman Pugeg Aryantha (kiri) berbincang usai melakukan penandatanganan MoU di Kampus ITB, Bandung, Jawa Barat, Senin (9/1). Kerjasama ini meliputi peningkatan program pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dengan pemamfaatan sumber daya manusia dan fasilitas ilmu serta teknologi hayati guna menghasilkan benih unggul sayuran terpadu di Indonesia. (ANTARA FOTO/Fahrul Jayadiputra/ama/17)
Targetkan 100.000 petani hortikultura akan memanfaatkan teknologi informasi berbasis aplikasi
Jakarta (Antara News) - PT East West Seed Indonesia (Ewindo) produsen benih sayuran hybrida berencana membekali petani dengan teknologi informasi berupa Sipindo (Sistem Aplikasi Petani Indonesia) atau aplikasi yang dapat diunggah melalui telepon pintar.

"Berkerja sama dengan Pemerintah Belanda kami akan membekali petani hortikultura terutama sayuran dengan tablet yang dapat terkoneksi dengan big data dan satelit agar mengetahui informasi terkini cuaca, tanah, budi daya serta info-info penting lainnya agar produksi berhasil," kata Managing Director Ewindo, Glenn Pardede di Jakarta, Selasa.

Glenn mengatakan, sebagai tahap awal aplikasi yang disusun bersama dengan Pusdatin Kementerian Pertanian akan menyasar kepada 12.400 petani saat diluncurkan pada akhir 2017, serta dalam tiga tahun ke depan dapat menyasar 100.000 petani.

Glenn mengatakan, aplikasi tersebut dihadirkan untuk menjawab persolaan petani hortikultura, sebagai contoh informasi mengenai tingkat kesuburan tanah, tujuannya agar petani menjadi lebih hemat dalam menggunakan pupuk.

"Bahkan nantinya tablet tersebut cukup ditempelkan ke tanah, petani sudah dapat mengetahui tingkat kesuburannya serta dapat memperkirakan penggunaan pupuk serta penggunaan air," jelas dia.

Glenn menambahkan pihaknya juga menggandeng UNDP untuk mendata ulang petani hortikultura terutama sayuran, hal ini penting untuk mengetahui profil dari petani, kehidupannya, kebutuhannya, serta persoalan-persoalan apa saja yang dihadapi.

Glenn mengatakan berdasarkan identifikasi di lapangan banyak dari petani sayuran terutama di Pulau Jawa yang tidak memiliki lahan sendiri, sebagian besar dari petani tersebut harus menyewa. Bahkan petani yang selama ini memasok kebutuhan bagi pasar Jakarta seperti dari Tangerang dan Karawang harus mengandalkan dari sewa lahan, serta sewaktu-waktu harus pindah kalau lahannya akan dipakai.

Sementara itu, Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi), Bayu Krisnamurthi mengapresiasi langkah yang diambil Ewindo sebagai upaya menjamin pasokan dan ketersediaan produk sayuran di pasar, apalagi komoditi ini ditargetkan dapat tumbuh 4,7 sampai 16,1 persen dengan nilai Rp112 triliun,

Menurut dia, sebanyak 95 persen kebutuhan sayuran di dalam negeri dicukupi melalui produk dalam negeri, sedangkan impor hanya 5 persen. Kelangkaan yang terjadi pada komoditi sayuran tertentu lebih disebabkan tingginya penyerapan industri seperti cabai pada industri sambal kemasan.

Industri besar seperti Indofood membutuhkan sedikitnya 100.000 ton seminggu, kemudian skala industri rumahan seperti Bu Rudi, restoran, hotel, baru rumah tangga. Saat produksi turun wajar apabila cabai kemudian langka karena diserap industri agar produksi tetap jalan.

Persoalan pasokan produk sayuran seperti cabai inilah yang harus dijembatani melalui informasih sehingga dapat diantisipasi lebih awal, jelas Bayu.

Lebih jauh Suratman petani sayuran yang biasa beraktivitas di kawasan Teluk Naga Bandara Soekarno Hatta ingin menepis anggapan kehidupan petani tidak sejahtera. Dua unit SUV premium sudah dimiliki dari hasil memasok produksi sayuran ke Tangerang dan Jakarta.

Pemilik lahan pertanian seluas 28 hektar di kawasan Bandara Soekarno Hatta ini sudah dipercaya untuk memasok ke Superindo dan sejumlah pasar modern lainnya setidaknya 1,5 juta ton per harinya untuk satu outlet berupa terong, tomat, kacang panjang, oyong, pare.

"Sedangkan untuk pasar tradisional sekitar 3 juta ton biasanya untuk di kota Tangerang saja," jelas Suratman.

Editor: Ganet

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga