Lebak, Banten (ANTARA) - Pembudi daya ikan tawar di Kabupaten Lebak, Banten, menerapkan cara budi daya ikan yang baik (CBIB) untuk mengantisipasi musim kemarau panjang atau El Nino agar produksi tidak menurun.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lebak Winda Triana di Lebak, Rabu, mengatakan pembudi daya ikan dapat menerapkan CBIB untuk mengantisipasi musim kemarau panjang, sehingga ikan terhindar dari bakteri seperti Aeromonas hydrophila yang dapat menyebabkan penyakit berbahaya pada ikan.

Selain itu, pembudi daya ikan dapat menjaga kualitas kebersihan ikan, menambah aerasi, mengatur kepadatan tebar dan efisiensi pakan serta rutin memantau kesehatan ikan.

Baca juga: Tangkapan ikan nelayan Lebak tembus pasar ekspor

Selama ini, kata dia, musim panas ekstrem memang berdampak pada sektor perikanan ikan tawar dan dipastikan debit air berkurang, suhu naik, oksigen menurun, pH tinggi, dan kadang amonia naik, sehingga ikan mudah stres.

Selain itu, juga pertumbuhan melambat, penyakit juga lebih mudah muncul hingga berisiko kematian.

Namun demikian, penerapan CBIB dipastikan produksi ikan tawar tidak berdampak dan tetap memenuhi ketersediaan konsumsi konsumen.

"Kami meyakini jika pembudi daya ikan tawar menerapkan CBIB di musim kemarau tetap produksi ikan berjalan baik," katanya.

Baca juga: Pemkab Lebak usulkan lima desa jadi Kampung Nelayan Merah Putih

Berdasarkan produksi ikan tawar pada 2025 di Kabupaten Lebak mencapai 4.089,15 ton terdiri atas ikan lele, nila, emas, gurami, patin, udang vaname, dan bawal dengan menggulirkan perputaran uang Rp141 miliar.

Produksi ikan tawar pada 2026 dipastikan permintaan kebutuhan konsumsi ikan warga Lebak dipasok dari pembudi daya lokal dan tidak mendatangkan dari luar daerah.

"Kami optimistis produksi ikan tawar bisa terpenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat dan tidak berdampak kemarau," kata Winda.

Sementara untuk sektor perikanan tangkap, kata dia, perubahan kondisi perairan bisa memengaruhi ketersediaan dan pola ikan, sehingga hasil tangkapan menurun.

Apalagi, sebagian wilayah selatan Indonesia, terjadi upwelling justru bisa meningkatkan kesuburan, sehingga hasil tangkap bisa meningkat tidak merata (tergantung lokasi dan waktu).

Untuk nelayan, ujar dia, penting menyesuaikan waktu dan lokasi tangkap berdasarkan kondisi cuaca, gunakan informasi oseanografi (SST & klorofil) untuk cari fishing ground baru.

"Kami memastikan nelayan menghadapi musim kemarau biasanya gelombang tidak tinggi," katanya.

Baca juga: Pemkab Lebak targetkan 2027 swasembada ikan tawar



Pewarta: Mansyur Suryana
Editor : Bayu Kuncahyo

COPYRIGHT © ANTARA 2026