Sebanyak 50 orang yang terlibat sebagai peserta kegiatan itu terdiri atas unsur komunitas, vlogger, pelajar, Abang None Jakarta Utara, dan sejumlah unit kerja perangkat daerah terkait.
Kasudin Parekraf Kota Jakarta Utara Shinta Nindyawati menyatakan bahwa generasi saat ini harus bangga bahwa Jakarta Utara memiliki kekayaan yang luar biasa, mulai dari sejarah, budaya, kearifan lokal mengelola air.
Krontjong Toegoe pun merupakan cikal bakal pertumbuhan musik keroncong di Indonesia. Jadi, kawasan Kampung Tugu, yang merupakan bangunan cagar budaya, harus dilestarikan. Keberadaannya kini menjadi salah satu tujuan wisata pesisir Jakarta Utara.
Napak tilas di Kampung Portugis bukan sekadar berwisata, melainkan menjadi langkah untuk menyusuri masa lalu beserta jejak-jejak budaya beserta kearifan lokal yang ditinggalkan, seperti Gereja Tugu, rumah kuno Portugis, musik keroncong Tugu, hingga kuliner khas setempat.
Kini kian banyak orang yang memahami mengapa Kampung Tugu disebut lokasi bersejarah.
Kampung Tugu memiliki beragam keunikan. Tidak hanya memiliki bangunan bersejarah, namun ada pesan kuat dari leluhur, agar setiap generasi menjaga air tetap mengalir di Jakarta.
Baca juga: Kemenkes wajibkan kepesertaan BPJS bagi masyarakat adat, termasuk Badui
Baca juga: Wisatawan ramai kunjungi kawasan Badui sambil berburu durian