Lebak (AntaraBanten) - Gerakan penghijauan melalui program penanaman satu miliar pohon di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, pada 2014 melebihi target 6,3 juta pohon di 28 kecamatan.

"Kami memberikan apresiasi terhadap gerakan penghijauan itu hingga mencapai di atas target yang ditentukan pemerintah," kata Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Lebak Kosim Ansori saat dihubungi di Lebak, Selasa.

Pelaksanaan gerakan penghijauan yang dilaksanakan  serentak Oktober hingga Desember 2014 terealisasi lebih dari 6,3 juta pohon, sementara pemerintah daerah menargetkan hanya 6,3 juta pohon.

Dengan demikian, pihaknya optimistis pelestarian hutan dan lahan di Kabupaten Lebak dapat mencegah bencana alam, seperti banjir, longsor dan kekeringan.

Gerakan penghijauan itu bertujuan untuk mencegah kerusakan hutan dan lahan juga dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat setempat.

Saat ini, Kabupaten Lebak terbesar sebagai daerah penghasil produk kayu-kayuan, seperti sengon, kecapi, mahoni, jati dan alkasiah.

Kayu-kayuan itu digunakan untuk keperluan material bangunan maupun furniture rumah tangga.

"Kami mengajak warga terus melakukan gerakan penghijauan di hutan dan lahan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya.

Kosim menyebutkan, selama tiga tahun terakhir gerakan penghijauan di Kabupaten Lebak melebihi target karena partisipasi masyarakat, TNI, Polri, BUMN, Mahasiswa, Pelajar dan Kelompok Tani cukup tinggi.

Bahkan, TNI dan Polri melaksanakan gerakan penghijauan di lahan seluas 20 hektare.

Pemerintah daerah terus mendorong agar gerakan penghijauan dengan menanam aneka jenis tanaman keras terus digalakkan, sebab bermanfaat dan menguntungkan bagi manusia.

"Kami terus mendorong agar pelaksanaan penghijauan terus direalisasikan karena Lebak memiliki lahan hutan begitu luas di Provinsi Banten," ujarnya.

Untuk mengatasi kerusakan hutan pihaknya melakukan gerakan rehabilitasi melalui Aksi Penanaman Serentak Indonesia, Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon, Pencanangan Hari Menanam Pohon Indonesia dan Bulan Menanam Nasional, dan Satu Orang Satu Pohon (One Man One Tree).

Selama ini, hutan dan lahan kritis di Kabupaten Lebak terus berkurang.

Pada 2004 lahan dan hutan kritis tercatat 36.500 hektare, namun 2014 kini berkurang menjadi 9.000 hektare.

"Saya kira menyusutnya lahan hutan kritis itu karena adanya gerakan penghijauan secara bersama-sama guna mencegah terjadi kerusakan lahan dan hutan," katanya menjelaskan.

Menurut dia, saat ini penanaman jenis kayu-kayuan keras bisa menyumbangkan perekonomian masyarakat cukup besar, bahkan mencapai Rp10 miliar per tahun dengan jumlah 20.000 kubik dari akumulasi harga rata-rata Rp500 ribu per kubik.

Gerakan penghijauan di atas 6,3 juta pohon dipastikan dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat. Selain itu juga dapat mengantisipasi kerusakan lahan dan hutan.

Penghijauan hutan dan lahan dengan menanam aneka jenis tanaman keras, diantaranya albazia, manglid, mahoni, jabon, pulai, bambu, jati dan tanaman hortikultura.

Selain itu juga tanaman hortikultura, seperti durian, manggah, dukuh, nangka, rambutan dan manggis.

"Semua bibit tanaman itu diberikan secara gratis dari hasil persemaian bibit kebun rakyat (KBR) melalui kelompok petani," ujarnya.

Ketua Kelompok Tani Desa Cirinten, Kecamatan Bojongmanik, Kabupaten Lebak, Samsudin, menyambut positif bantuan program Obit tersebut guna mengantisipasi kerusakan hutan dan lahan.

"Kami berharap bantuan bibit tanaman itu dapat mencegah bencana alam dan kerusakan hutan juga bisa meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat," katanya.


: Ganet Dirgantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026