Serang, (Antaranews Banten) - Pemerintah Kabupaten Serangm Provinsi Banten, berkomitmen untuk melakukan upaya percepatan menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), Sebab angkanya belum menunjukkan penurunan yang signifikan dari 2017 – 2018.

Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah di Serang, Selasa (4/12), menyebutkan tahun 2018 sampai November kematian AKI mencapai 56 orang dan AKB mencapai 240 bayi. 

Ia mengatakan Pemkab Serang telah melakukan program untuk mendukung peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan. Seperti, Perbaikan manajemen, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, peningkatan  sarana dan pelayanan kepada pasien. 

"Kepala Desa dan Camat juga harus terlibat untuk melakukan pemantauan kepada ibu hamil melalui bidan Desa," kata Tatu saat membuka workshop kepemimpinan kolektif dalam percepatan penurunan AKI dan AKB di Serang.

Ia mengatakan, jumlah kematian AKI dan AKB bukan hanya dari tindakan medis, namun masih ada keluarga yang menolak untuk mendapatkan fasilitas kesehatan saat melahirkan.  

"Mereka nyaman di rumah, sedangkan merujuk ke fasilitas kesehatan setelah kondisi Ibu tidak bisa ditolong," katanya.

Kabupaten Serang memiliki 1400 paraji. Dari jumlah tersebut mayoritas tidak ada koordinasi dengan bidan ketika ada yang melahirkan. Padahal, paraji sudah menjadi mitra Dinkes Kabupaten Serang untuk bekerja sama dengan bidan setempat jika ada pasien. 

"Paraji cukup koordinasi dan mendampingi bidan setempat. Tetapi, kondisi di lapangan masih banyak Paraji yang menangani sendiri saat ibu melahirkan," katanya.

Dalam menangani masalah tersebut, Pemkab Serang juga telah bekerja sama dengan Project Hope Indonesia yang melakukan berbagai program dalam upaya percepatan penyelamatan ibu dan bayi di wilayahnya. Program tersebut berjalan sejak tahun 2013, berlokasi di 9 kecamatan. "Kami mengapresiasi program Project Hope juga turut serta dan memberikan hasil yang dirasakan oleh petugas kesehatan, kader maupun masyarakat," kata Tatu.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Serang Sri Nurhayati mengatakan, saat ini persalinan menggunakan tenaga kesehatan resmi mencapai 80 persen dan 20 persen masih menggunakan paraji. 

"Berbagai upaya dilakukan untuk penurunan AKI dan AKB. Namun, penurunan kali ini  tidak signifikan hanya kisaran dua angka," ujarnya.

Dia juga menambahkan, secara mayoritas yang menyebabkan kematian pada ibu karena terlambat datang ke fasilitas yang disedikan. "Jika bayi biasanya disebabkan karena kurang berat badan dan anemia yang diderita oleh wanita  usia subur," katanya. ***4***

Pewarta: Lukman Hakim

Editor : Sambas


COPYRIGHT © ANTARA News Banten 2018