Cilegon (ANTARABanten) - Puluhan masa yang tergabung dalam Jaringan Pemuda Mahasiswa Cilegon, Kamis, melakukan aksi unjuk rasa dan mempertanyakan anggaran Rp120 miliar yang digunakan untuk pembangunan Jalan Lingkar Selatan kepada Dinas Pekerjaan Umum setempat.


Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Jaringan Pemuda Mahasiswa Cilegon (JPMC) terdiri dari Ikatan Mahasiswa Cilegon (IMC) BEM Fakultas Tekhnik Untirta ini berunjukrasa di kantor Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Cilegon di Kelurahan Jombang Wetan, Kecamatan Jombang ini meminta DPU untuk segera memperbaiki Jalan Lingkar Selatan (JLS) yang kondisinya rusak parah, padahal dana yang telah dihabiskan sebesar ratusan miliar.

"Kami dari JPMC mendesak kepada Dinas PU agar segera menyelesaikan dan membenahi JLS," kata Baim, koordinator lapangan dalam aksi unjukrasa di DPU Cilegon.

Mahasiswa mempertanyakan penganggaran Rp120 miliar dari APBD Kota Cilegon untuk pembangunan JLS tidak sesuai harapan.

"JLS yang dijadikan sebagai lintasan strategis untuk menuju jalan pariwisata Anyer seharusnya memiliki kualitas yang bagus, tapi kenyataannya JLS kini rusak parah dan masyarakat dapat menikmati sebagaimana mestinya," katanya menambahkan.

Selain itu mahasiswa juga mendesak kepada DPRD Cilegon agar melakukan fungsi kontrol terhadap pembangunan JLS, dan meminta kepada seluruh masyarakat untuk memantau perbaikan JLS.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Cilegon Yahya Bae, ketika ditemui usai melakukan pertemuan dengan beberapa perwakilan mahasiswa mengatakan, kondisi JLS yang saat ini rusak parah dikarenakan banyak dilalui oleh kendaraan yang memiliki tonase lebih dari delapan ton.

"Kerusakan JLS itu, bukan karena fisiknya yang jelek, tetapi memang jalan tersebut banyak dilalui oleh kendaraan tronton yang kapasitasnya lebih dari delapan ton," katanya menjelaskan.

Mengenai adanya larangan kendaraan melintas di JLS yang merupakan kelas III, masih menurut Yahya, bukan kewenangan pihaknya, akan tetapi Dinas Perhubungan (Dishub).

"Kami sudah meminta kepada Dishub saat itu agar dilakukan pengawasan, karena kami pernah melihat banyak kendaran tronton dan besar melintas di JLS," katanya.

Yahya juga menjelaskan, JLS yang dibangun sejak tahun 2004 sampai dengan 2009 serta menghabiskan anggaran Rp120 miliar, dan diresmikan penggunaannnya pada tanggal 1 Januari 2010 , saat itu dalam kondisi baik.

"Saat diresmikan kondisi JLS sangat layak, dan anggaran Rp120 miliar itu digunakan untuk pembebasan lahan, pematangan lahan, mengupas gunung untuk kelayakan jalan dan konstruksi pengaspalan," katanya.

Sementara untuk tahun 2011, masih menurut Yahya, dialokasikan anggaran sebesar Rp23 miliar, berasal dari Pemprov Banten dan Kota Cilegon.

"Pembangunan perbaikan JLS tahun 2011, bantuan dana provinsi Rp20 miliar, APBD Cilegon Rp3 miliar, bantuan dari Banten digunakan untuk melakukan penanganan pekerjaan konstruksi beton 1,6 kilometer. Sedangkan APBD Cilegon adalah penunjang seperti untuk pembangunan saluran air," katanya.