Tangerang (ANTARA) - Atrial fibrilasi merupakan salah satu jenis gangguan irama jantung (aritmia) yang paling sering terjadi dan dapat meningkatkan risiko komplikasi serius jika tidak ditangani, seperti stroke, gagal jantung, dan penurunan kualitas hidup.
“Kenapa atrial fibrilasi menjadi fokus? Karena ini adalah jenis aritmia yang paling banyak terjadi. Masalahnya, sebagian besar pasien kadang tidak merasakan keluhan, sehingga merasa tidak perlu datang ke dokter jantung atau berobat ke poliklinik,” kata Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Eka Hospital Ignatius Yansen di Tangerang, Banten, Sabtu.
Ia menuturkan pada atrial fibrilasi, denyut jantung menjadi tidak beraturan sehingga cardiac output atau aliran darah yang dipompa jantung tidak optimal. Kondisi ini bisa memengaruhi suplai darah ke otak dan menimbulkan keluhan seperti pusing atau sakit kepala.
"Karena itu aritmia bisa muncul dalam spektrum usia yang luas, mulai dari usia muda hingga lanjut usia, dengan variasi gejala yang berbeda-beda," ujarnya.
Baca juga: Catat, miom dan kista rahim berisiko ganggu kesuburan jika diabaikan
Ia mengungkapkan angka pasti kasus atrial fibrilasi memang sulit diketahui karena banyak yang tidak terdiagnosis. Namun secara global, lanjutnya, pada kelompok usia di atas 80 tahun, prevalensinya bisa mencapai 15–20 persen.
Risiko terjadinya atrial fibrilasi juga meningkat pada pasien dengan faktor komorbid seperti hipertensi, diabetes, obesitas, Obstructive Sleep Apnea (OSA), hingga konsumsi alkohol.
"Pasien dengan faktor risiko seperti darah tinggi, kencing manis, obesitas, dan OSA, tentu lebih cepat mengalami atrial fibrilasi. Tapi ada juga yang terjadi tanpa faktor risiko jelas, yang kita sebut idiopatik,” kata dia.
Keluhan yang paling sering dirasakan pasien adalah jantung berdebar-debar. Pada tahap awal gejalanya bisa hilang timbul dan jarang terjadi, kata dia, bahkan hanya setahun sekali. Namun seiring waktu frekuensinya bisa semakin sering dan durasinya semakin lama.
Menariknya, tidak semua pasien datang dengan keluhan khas. Ia mencontohkan kasus pasien usia 80 tahun yang mengeluhkan sakit kepala, bukan keluhan jantung.
“Pada atrial fibrilasi, denyut jantung menjadi tidak beraturan sehingga cardiac output atau aliran darah yang dipompa jantung juga tidak optimal. Kondisi ini bisa memengaruhi suplai darah ke otak dan menimbulkan keluhan seperti pusing atau sakit kepala,” terangnya.
Baca juga: Eka Hospital hadirkan teknologi medis mutakhir di MT Haryono
Pewarta: Achmad IrfanEditor : Bayu Kuncahyo
COPYRIGHT © ANTARA 2026