Serang (ANTARA) - Program inovatif Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) terbukti berhasil menurunkan angka prevalensi stunting di Provinsi Banten menjadi 21,1 persen pada 2024, dari sebelumnya 24 persen pada 2023.
Asisten Daerah I Bidang Kesejahteraan Rakyat Provinsi Banten, Komarudin, di Serang, Selasa, mengapresiasi program genting sebagai bukti nyata kerja sama lintas sektor yang efektif dalam upaya mencetak generasi unggul.
"Ini bukti kerja sama lintas sektor yang nyata. Harus kita lanjutkan dengan langkah yang lebih cepat dan terukur," ujarnya.
Keberhasilan menekan stunting, lanjutnya, menjadi kunci untuk mengelola bonus demografi Banten, di mana 70,1 persen penduduknya berada di usia produktif, agar dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi.
Baca juga: Turunkan stunting, Pemprov Banten libatkan Himbara
Sementara itu, Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Banten, Rusman Efendi, memaparkan bahwa program genting telah berhasil membantu 15.068 sasaran, yang terdiri dari balita di bawah dua tahun, ibu hamil, dan ibu menyusui.
"Dukungan yang terkumpul mencapai Rp2,68 miliar dari total 354 orang tua asuh yang berpartisipasi," jelasnya.
Program genting merupakan salah satu dari sejumlah program percepatan (quick wins) yang digagas BKKBN bersama para mitra untuk memastikan setiap keluarga di Banten mendapatkan intervensi yang tepat sasaran demi mewujudkan Banten maju, mandiri, dan sejahtera.
Keberhasilan program kolaboratif ini menjadi sorotan utama dalam Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Program Bangga Kencana 2025 yang digelar Pemerintah Provinsi Banten bersama BKKBN.
Baca juga: Program Genting di Lebak upaya bebaskan anak stunting
