Pemerintah Kota (Pemkot) Serang bersama dengan rumah sakit daerah dan swasta melakukan kolaborasi dalam penanganan stunting.
 
Pj Wali Kota Serang, Yedi Rahmat, di Serang, Banten, Rabu, mengatakan penuntasan dan penanganan stunting merupakan program prioritas yang dicanangkan oleh Pemerintah Pusat dan juga Pemerintah Daerah.
 
"Upaya Pemkot Serang untuk menurunkan angka stunting terus dilakukan, termasuk bekerja sama dengan perusahaan dan rumah sakit yang ada di Kota Serang untuk turut menjadi bapak asuh bagi anak-anak stunting," katanya.

Baca juga: 1.274 balita di Kota Serang masuk kategori stunting
 
Dia mengatakan seluruh direktur rumah sakit yang hadir telah setuju dengan program Pemkot Serang untuk bersama menjadi bapak asuh bagi anak-anak yang terindikasi stunting dengan keadaan ekonomi yang kurang memadai.
 
“Kami mohon dukungannya untuk penanganan stunting dan gizi buruk serta hal lainnya, dan pihak rumah sakit siap mendukung program pemerintah, salah satunya menjadi bapak asuh," katanya.
 
Selain itu, pihak rumah sakit juga akan turut membantu memfasilitasi secara medis maupun perkembangan usai pemeriksaan medis.
 
“Bentuk dukungannya dari rumah sakit, misal ada anak yang terindikasi stunting, bermasalah dengan gizi, kami minta ke teman-teman rumah sakit untuk dapat memfasilitasi dengan tidak memberatkan biaya," katanya.

Baca juga: BPK nilai upaya penurunan stunting di Pandeglang belum optimal
 
Sementara itu, Kepala Dinkes Kota Serang Ahmad Hasanudin, mengatakan data stunting di Kota Serang tahun 2023 sebanyak 1.274 balita. Angka tersebut turun jika dibandingkan tahun 2022 yang mencapai 1.586 anak stunting.
 
Ia mengatakan penyebab terjadinya stunting sangat beragam, mulai dari pola asuh orang tua, asupan gizi pada anak, hingga pola hidup calon ibu pada saat kehamilan juga menjadi faktor pendorong terjadinya stunting pada balita.
 
"Anak stunting ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, maka dari kita juga melakukan beberapa program untuk mengentaskan stunting di antaranya memberikan alat antroprometri elektronik pencatatan gizi berbasis masyarakat di seluruh Posyandu," katanya.
 
Ia menjelaskan alat tersebut untuk mengukur pajang dan tinggi badan balita sehingga bisa terdeteksi stunting atau tidak, dan alat itu akan terkoneksi dengan Pusat.
 
Sebanyak 15 rumah sakit yang terlibat, di antaranya Rumah Sakit Tk IV Kencana (DKT), Budi Asih, Benggala, Ibu dan Anak Puri Garcia, RSUD Banten, Fatimah, Achmad Wardi, RSUD Kota Serang, Bhayangkara, Andalusia, Citra Arafik, Jannah, Ibunda, Sari Asih dan RSDP Serang.

Baca juga: Pemkot Serang fokuskan penanganan stunting dalam RKPD 2025

Pewarta: Desi Purnama Sari

Editor : Bayu Kuncahyo


COPYRIGHT © ANTARA News Banten 2024