Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Banten menyebut alasan maaih tingginya pengangguran di Banten hingga saat ini karena dampak dari pandemi COVID-19.

"Faktor utamanya karena pandemi COVID-19, banyak perusahaan yang mengurangi karyawannya karena menurunnya order dampak pandemi," kata Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Banten Septo Kalnadi di Serang, Senin.

Baca juga: Peresmian Banten International Stadium dimeriahkan Pameran produk UMKM

Ia mengatakan, COVID-19 sangat berdampak terhadap perekonomian karena banyak perusahaan yang ordernya tertunda atau turun, sehingga berpengaruh pada para karyawan di perusahaan tersebut.

"Boro-boro menambah karyawan, yang ada aja dikurangi terus. Ini kan menambah jumlah pengangguran," kata Septo.

Selain itu, kata Septo, Disnaketrans, bukan satu-satunya organisasi perangkat daerah ( OPD) yang terkait langsung dengan meningkatnya angka pengangguran.

"Sektor pariwisata dan UMKM itu juga yang menyerap ketenagakerjaan, harusnya digenjot juga sektor itu. Kami sudah berupaya, berkoordinasi dengan perusahaan-perusahaan, supaya menyampaikan informasi lowongan pekerjaan ke dinas tenaga kerja terdekat. Namun jumlah lowongan pekerjaan tidak sebanding dengan tingginya angka pencari kerja," kata Septo

Tak hanya itu saja, Septo juga meminta kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Banten agar menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja atau industri, terutama di tingkat sekolah SMK agar bisa 'link and match' dengan dunia industri.

"Saat ini juga sedang dibentuk tim koordinasi antar OPD untuk penyelenggaraan pelatihan ketenagakerjaan secara terpadu, namun belum berjalan karena terbentur anggaran," kata dia.

Badan Pusat Statistik (BPS) Banten mencatat, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Provinsi Banten menurun 0,48 persen poin menjadi 8,53 persen dibanding Februari 2021.

Meski menurun, TPT Banten masih menjadi yang tertinggi menurut provinsi di Indonesia.

"Tingkat pengangguran terbuka Indonesia 5,83 persen, Banten masih cukup besar (tertinggi) 8,53 persen. Terendah Provinsi Sulawesi Barat 3,11 persen," kata Kepala BPS Provinsi Banten Dody Herlando dalam siaran persnya.

Menurut Dody, jumlah angkatan kerja pada Februari 2022 sebanyak 5,91 juta orang, turun 340,76 ribu orang dibanding Februari 2021. Sementara Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) naik sebesar 0,80 persen poin.

Penduduk yang bekerja sebanyak 5,41 juta orang, turun sebanyak 281,61 ribu orang dari Februari 2021. Adapun lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan persentase terbesar adalah Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (4,07 persen poin). Sementara sektor yang mengalami penurunan terbesar yaitu Sektor Perdagangan Besar dan Eceran (2,77 persen poin).

Sebanyak 2,78 juta orang (51,43 persen) bekerja pada kegiatan informal, naik 0,94 persen poin dibanding Februari 2021.

Persentase setengah penganggur turun sebesar 1,09 persen poin, sementara persentase pekerja paruh waktu turun sebesar 1,34 persen poin dibandingkan Februari 2021.

Ia mengatakan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Februari 2022 sebesar 8,53 persen, turun 0,48 persen poin dibanding dengan Februari 2021.

Terdapat 468,34 ribu orang (5,16 persen penduduk usia kerja) yang terdampak COVID-19. Terdiri dari pengangguran karena COVID-19 (51,38 ribu orang), Bukan Angkatan Kerja (BAK) karena COVID-19 (21,59 ribu orang), sementara tidak bekerja karena COVID-19 (15,05 ribu orang), dan penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena COVID-19 (380,32 ribu orang).
 

Pewarta: Mulyana

Editor : Sambas


COPYRIGHT © ANTARA News Banten 2022