Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan bahwa tersangka teroris Zulkarnain mempelajari kemampuan militer saat mengikuti pelatihan di Afghanistan.

"Zulkarnain alumni pelatihan militer Afghanistan angkatan pertama pada 1988. Selama pelatihan militer, dia belajar cara membuat bom, menjadi perencana kegiatan yang dia lakukan di Afghanistan," kata Irjen Argo dalam konferensi pers di Kantor Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Jumat.

Baca juga: Polri sebut Upik Lawanga diperintah membuat senjata sejak Agustus 2020

Di Afghanistan, Zulkarnain diketahui tinggal selama tujuh tahun.

Zulkarnain diketahui memiliki kemampuan merancang peristiwa teror bom, memerintahkan bawahannya untuk melakukan aksi pengeboman dan memiliki kemampuan membuat bom berdaya ledak tinggi.

Saat menjadi buronan, Zulkarnain hidup dengan berpindah-pindah tempat. Ada 25 kota yang tercatat pernah menjadi lokasi persembunyian Zulkarnain.

"Zulkarnain saat DPO berpindah-pindah tempat sampai ke 25 kota di Jawa, Sulawesi, Palembang, Lampung," tutur Argo.

Selama pelariannya tersebut, Zulkarnain dibantu oleh Serse Jamaah Islamiyah di setiap kota yang dia singgahi. Zulkarnain pun mendapatkan bantuan dari "sel-sel" JI setempat serta JI pusat untuk membiayai kehidupannya sehari-hari.

Zulkarnain yang memiliki nama alias Aris Sumarsono alias Daud alias Zaenal Arifin alias Abdulrahman ini tercatat terlibat dalam sejumlah peristiwa teror di Tanah Air di antaranya Bom Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton, Bom Pasar Tentena, aksi teror di Poso dan Ambon.

Zulkarnain ditangkap di Gang Kolibri, Toto Harjo, Purbolinggo, Kabupaten Lampung Timur, Lampung, pada Kamis, 10 Desember 2020.

Pewarta: Anita Permata Dewi

Editor : Sambas


COPYRIGHT © ANTARA News Banten 2020