Tangerang (ANTARA) - Dokter Konsultan Aritmia Eka Hospital MT Haryono dr Evan Jim Gunawan mengatakan tekanan darah dan gula darah tinggi yang tidak terkontrol dapat mengubah struktur otot jantung sehingga menyebabkan terhalangnya sinyal listrik jantung.
"Hipertensi dan diabetes menjadi salah satu faktor yang bisa merusak sistem listrik jantung dan membuat irama jantung menjadi tidak beraturan atau aritmia," kata Evan di Tangerang Rabu.
Faktor lain yang dapat merusak sistem listrik jantung adalah gangguan tiroid, sebab kelenjar tiroid yang terlalu aktif atau kurang aktif sangat mempengaruhi kecepatan detak jantung.
Baca juga: Dampak jangka panjang kekeringan disebut tingkatkan gagal ginjal
Selain itu, gangguan tidur saat napas sering terhenti sejenak ternyata membebani jantung sehingga iramanya berubah. Kekurangan asupan kalium atau magnesium dalam darah bisa mengganggu transmisi sinyal listrik jantung.
"Tubuh kita sebenarnya sangat pintar dalam mengirimkan tanda peringatan. Jika mengalami perubahan detak jantung yang tak biasa maka segera melakukan screening sejak dini untuk mengantisipasi gangguan medis yang mungkin ada di tubuh," ujarnya.
Namun demikian, lanjut Evan, tidak semua kondisi jantung berdebar tiba - tiba adalah berbahaya. Sebab jantung itu memiliki sistem kelistrikan dengan jalur-jalur yang rumit agar dapat berfungsi. Tubuh menggunakan sinyal listrik untuk membuat otot jantung berdenyut.
Baca juga: Ternyata puasa bagi penderita diabetes berdampak perbaikan sistem hormonal
Dalam kondisi normal sinyal listrik berjalan tanpa hambatan dan membuat irama jantung konsisten. Namun jika ada gangguan atau hambatan pada jalur sinyal listrik jantung maka irama jantung menjadi tidak beraturan.
"Kondisi irama jantung yang tidak beraturan inilah yang disebut sebagai aritmia. Ada yang berdetak terlalu cepat, berdetak terlalu lambat hingga tidak teratur," ujarnya.
Evan menuturkan ada dua kategori jenis debaran jantung yakni Fisiologis atau wajar yang biasanya setelah mengonsumsi kafein berlebih, berolahraga berat atau saat mengalami emosi yang kuat seperti stres, jatuh cinta, takut, atau panik. Biasanya, irama jantung akan kembali normal dengan sendirinya setelah pemicu hilang.
Baca juga: Atrial fibrilasi gangguan irama jantung yang harus ditangani
"Untuk yang bahaya biasanya muncul secara tiba-tiba tanpa pemicu yang jelas, bertahan dalam waktu lama, atau disertai dengan gejala fisik lainnya. Ini menandakan adanya gangguan pada sirkuit listrik jantung yang memerlukan pemeriksaan medis," ujarnya.
Kemajuan teknologi medis saat ini memungkinkan aritmia ditangani dengan efektif. Salah satu metode pengobatan populer adalah ablasi jantung yakni prosedur minimal invasif.
"Pada penanganan ini, dokter akan memperbaiki jalur listrik yang rusak agar irama jantung kembali normal tanpa perlu operasi bedah terbuka. Selain itu, penggunaan alat pacu jantung (pacemaker) juga telah membantu banyak orang kembali beraktivitas," katanya.
Baca juga: Catat, miom dan kista rahim berisiko ganggu kesuburan jika diabaikan
Pewarta: Achmad IrfanEditor : Bayu Kuncahyo
COPYRIGHT © ANTARA 2026