Jakarta (Antara News) - Masyarakat mengeluh saat harga cabai yang melambung sampai 20-30 persen menjelang puasa dan lebaran akibat langkanya komoditi ini dipasaran.

Apakah hal ini menguntungkan petani? Kenyataannya tidak demikian sejumlah petani di Jawa Barat justru tidak dapat menikmati hasil karena produksi padinya sedikit akibat kondisi cuaca buruk yang terjadi akhir-akhir ini.

Direktur Perbenihan Hortikultura Kementerian Pertanian Sri Wijayanti Yusuf mengatakan, cuaca buruk yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir membuat produksi tanaman sayuran termasuk cabai mengalami penurunan.

Sri mengatakan, pemerintah saat ini terus mendorong produsen benih untuk terus mengembangkan varietas unggul yang tahan terhadap cuaca ekstrim seperti sekarang.

Dia sangat mengapresiasi dengan langkah yang ditempuh PT East West Seed Indonesia (Ewindo) dengan menggandeng Seminis produsen benih besar dunia untuk menyalurkan benih cabai kriting PM 999 di Indonesia.

"Kehadiran PM 999 diharap menjadi solusi bagi petani yang membutuhkan benih cabai tahan penyakit dan cuaca buruk," kata Sri.

Sri berharap, Ewindo melalui ahli pemulia yang dimilikinya dapat terus berkreasi untuk menciptakan varietas yang lebih tangguh dalam menhadapai cuaca ekstrim seperti terjadi pada beberapa tahun terakhir ini.

PT Ewindo atau dikenal dengan "Cap Panah Merah" telah memperkenalkan benih unggul cabai keriting hibrida PM 999 yang sebelumnya dikenal dengan nama TM999.

PM999 diperkenalkan secara serempak di empat lokasi Garut, Lampung, Temanggung dan Malang pada Kamis (1/8).

Glenn Pardede Managing Director Ewindo mengatakan, 
Cabai PM 999 memiliki keunggulan tahan simpan dan tahan angkut karena kadar air yang rendah, tanaman kokoh dengan buah lebat, bisa beradaptasi dengan baik di berbagai jenis tanah dan iklim serta ukuran dan tipe buahnya yang cocok dengan permintaan pasar.

Selain PM 999, mulai Agustus 2013 Cap Panah Merah akan memasarkan semua benih sayuran yang dikelola oleh Seminis meliputi cabai varietas Chiko (sebelumnya Hot Chilli) dan tomat Madesta (sebelumnya Menara), dan produk-produk lainnya akan tetap menggunakan nama varietas yang sama yaitu cabai krida, moncer, prada, tomat prasun dan semangka campina dan legyta.

"Kami sangat antusias karena diberikan kepercayaan mengelola bisnis benih sayuran yang dikembangkan oleh Seminis. Sinergi ini diharapkan akan memberikan nilai lebih kepada petani khususnya dalam penyediaan benih unggul sayuran," ujar Glenn.

Dalam kerjasama strategis ini Ewindo akan melakukan pemasaran, promosi, distribusi dan produksi seluruh produk benih sayuran Seminis.

Lebih lanjut Glenn menerangkan bahwa melalui kolaborasi ini diharapkan akses petani terhadap benih unggul akan bertambah luas.

"Cap Panah Merah" selama ini dikenal memasarkan varietas-varietas sayuran unggul yang sangat digemari petani karena ketahanan terhadap penyakit dan memiliki kemampuan produksi tinggi.

"Kami melihat peluang pertumbuhan yang sangat besar di sektor pertanian sayuran di Indonesia. Ewindo akan memproduksi di Indonesia sehingga akan membuka lebih banyak lagi peluang bagi petani produksi dan mengurangi impor. Kerjasama ini sekaligus menjadi perwujudan dari komitmen kami untuk terus bersama-sama Pemerintah mengembangkan industri hortikultura nasional," kata Glenn.

Data Food and Agriculture Organization (FAO) PBB, Indonesia saat ini memiliki luas panen untuk sayuran sebesar 1,05 juta hektar danmenghasilkan 10 juta ton sayuran segar.

Di sisi lain konsumsi sayuran dalam negeri masih bisa tumbuh jauh lebih besar. Indonesia dengan populasi 240 juta jiwa saat ini mengkonsumsi sayuran rata-rata 40 kg per kapita per tahun, di bawah negara-negara Asia Tenggara yang rata-rata 50-60 kg per kapita per tahun.

"Semakin tinggi kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi sayuran dengan kualitas yang baik akan membuat petani terdorong untuk memproduksi sayuran dengan kualitas terbaik. Hal ini sesuai dengan misi kami untuk menyediakan produk dan layanan inovatif yang membantu meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani sayuran," kata Glenn.

Kepala Bidang Hortikultura, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut, Beni Yoga menambahkan petani di Garut sebesar 70 persen menggunakan benih pabrikan, sisanya benih lokal.

Menurut dia, benih yang diproduksi dengan nama "Cap Panah Merah" sudah cukup dikenal oleh petani di Kabupaten Garut.

Ia berharap perusahaan benih dapat meningkatkan sosialisasi keunggulan benihnya kepada petani dengan tujuan menghasilkan panen yang memuaskan.

"Kami ingin mendorong pihak produsen dan pemerintah untuk sosialisasikan benih unggulan agar Garut tetap menjadi pemasok sayuran terbesar di Jabar," kata Beni.

   
    Inovasi

Sedangkan Direktur Ewindo Afrizal Gindow mengatakan perusahaan memiliki misi untuk menyediakan produk dan pelayanan yang penuh inovasi yang akan meningkatkan pendapatan petani serta mendorong perkembangan dan kualitas produk petani sayuran.

Afrizal mengatakan, Ewindo juga akan mengembangkan industri benih lokal yang inovatif agar dapat menghasilkan benih sayuran yang berkualitas tinggi.

Hingga 2013, Ewindo telah bermitra dengan tujuh ribuan petani produksi benih yang tersebar di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur dan lebih dari 30 ribu tenaga kerja serta polinator bekerja pada petani produksi, jelasnya.

Selain itu Ewindo juga membina lebih dari 10 juta petani komersial yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dan didukung oleh karyawan lokal termasuk peneliti dalam negeri.

Ewindo telah menghasilkan sebanyak 170 varietas benih unggul dan telah mendapatkan sertifikat dari Lembaga Sertifikasi Sistem Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura ISO 9001:2008 dan akreditasi dari "International Seed Testing Association".

Seminis sendiri merupakan salah satu produsen benih besar dunia, perusahaan besar ini menggandeng Ewindo karena dukungan jaringan luas dan jumlah karyawan 1000 orang di seluruh Indonesia, kata Glenn lagi.

Terkait dengan kondisi cuaca yang kurang menguntungkan, Sri mengatakan, pemerintah telah mengalokasikan anggaran untuk pengadaan "screen house" untuk melindungi tanaman dari penyakit selama cuaca buruk.

Ewindo selama ini juga menyediakan "net house" tetapi lebih ditujukan kepada petani penangkar benih cabai untuk menjamin benih yang berkualitas dan tahan penyakit, jelas Afrizal.

Kehadiran Net House atau Screen House ini setidaknya akan sangat membantu petani ditengah kondisi cuaca yang kurang menguntungkan saat ini untuk menjaga produksi tetap stabil.

Sri mengatakan, memang tidak mudah menyediakan perlengkapan ini mengingat biayanya mahal tetapi secara bertahap bantuan akan diberikan terutama di sentra-sentra produksi.

Pewarta:

Editor : Ganet Dirgantara


COPYRIGHT © ANTARA News Banten 2013