Berdasarkan capaian nilai Profitability Index (PI) 2,77, maka rencana bisnis ini memiliki peluang yang menjanjikan untuk direalisasikan.Jakarta (Antara News) - Gandum merupakan salah satu bahan pangan yang produk olahannya kerap dikonsumsi masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari seperti terigu dan sereal. Namun angka kebutuhan gandum yang tinggi, tidak diimbangi dengan ketersediaannya di Indonesia.
Faktanya, Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) menyatakan bahwa impor gandum untuk kebutuhan konsumsi tahun 2017 diprediksi naik sekitar 5 persen hingga 6 persen dari tahun lalu.
Pada tahun 2016 impor gandum untuk kebutuhan konsumsi berdasarkan Data Pusat Statistik (BPS) sebesar 8,3 juta ton. Maka bila diakumulasi dengan prediksi mencapai 5 persen atau 6 persen, total impor gandum tahun 2017 diperkirakan mencapai sekitar 8,71 juta ton hingga 8,79 juta ton.
Tanpa diketahui, terdapat bahan baku pangan yang tidak kalah baiknya untuk dijadikan subtitusi dari gandum yaitu sorghum.
Sorghum merupakan tanaman serealia yang sejajar dengan padi, gandum terigu, dan jagung. Biji sorghum biasa dimanfaatkan sebagai bahan pangan, pakan ternak, dan bahan baku industri.
Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), sorghum merupakan bahan pangan dunia yang berada pada urutan ke-5 setelah gandum, padi, jagung dan barley.
Meskipun belum sepopuler gandum, beras, maupun jagung, sorghum sebenarnya memiliki kandungan nutrisi yang paling baik dibandingkan bahan sumber pangan karbohidrat lainnya.
Hal itu dikarenakan sorghum merupakan bahan pangan yang tidak mengandung gluten, apalagi diet gluten ini tengah populer di negara-negara maju termasuk di kota-kota besar di Indonesia.
Kelebihan lainnya, sorghum dapat tumbuh di tanah marjinal dan tidak membutuhkan banyak air dibandingkan padi dan jagung yang sangat potensial ditanam di Indonesia.
Dalam segi bisnis, Sorghum juga memiliki peluang yang menjanjikan untuk dikembangkan menjadi produk olahan terigu dan sereal. Terlebih lagi, di Indonesia masih sangat jarang ditemukan terigu berbahan dasar Sorghum. Sedangkan, untuk sereal belum ada pelaku bisnis yang mengembangkannya.
Total kebutuhan dana yang diperlukan jika ingin mengembangkan bisnis Sorghum untuk memproduksi 486 ton terigu dan 1.180,8 ton sereal yaitu sebesar Rp68.917.103.373 . Prediksi keuntungan yang didapat dengan mengambil marjin penjualan sekitar 70 persen dari produksi terigu dan sereal tersebut adalah Rp35.805.936.240 untuk tahun pertama. Dimana pada tahun berikutnya, pelaku bisnis dapat mengekspansi bisnis ini dengan meningkatkan jumlah produksi sebesar 20 persen diikuti dengan keuntungannya.
Dari analisa perhitungan rencana bisnis ini, jika perusahaan berhasil menjual seluruh produk maka akan didapatkan Net Present Value (NPV) senilai Rp100.792.383.524 dalam jangka waktu 5 tahun dengan tingkat Internal Rate of Return (IRR) senilai 72 persen.
Rencana bisnis ini akan mengalami payback period dengan discounted factor sebesar 25 persen selama 2 tahun 11 bulan. Dari perhitungan, nilai Profitability Index (PI) ialah 2,77. Dengan demikian, rencana bisnis ini memiliki peluang yang menjanjikan untuk direalisasikan.
Pewarta: Hilwah, Nadya Dias F, Oryza SativaEditor : Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026