Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Banten Ranta Soeharta di Serang, Jumat, mengatakan inflasi yang terjadi di bulan September sebesar itu karena ada enam dari tujuh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan indeks, yakni kelompok bahan makanan naik 0,25 persen; makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau naik 1,50 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar naik 0,67 persen; kelompok sandang 0,46 persen; kelompok kesehatan naik 0,48 persen, dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga naik 0,44 persen. Hanya pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan saja yang mengalami penurunan indeks sebesar -0,51 persen.
Badan Pusat Statistik (BPS) Banten menyebutkan beberapa komoditi yang mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi selama bulan September 2014 antara lain melon, kol putih/kubis, buku pelajaran SMP, kerupuk ikan, kue kering berminyak, cabe merah, kemeja pendek, dan deodorant. Sementara komoditi yang mengalami penurunan harga antara lain ikan selar/tude, tarip angkutan udara, jengkol, jeruk, buncis, bawang merah, bawang putih dan ayam hidup.
Kepala BPS Banten Syech Suhaimi mengatakan pada kelompok bahan makanan, dari sebelas sub kelompok yang ada, lima sub kelompok mengalami kenaikan indeks. Kenaikan indeks yang cukup tinggi terjadi pada sub kelompok bahan makanan lainnya sebesar 3,22 persen, disusul kemudian sub kelompok buah-buahan sebesar 2,70 persen, dan sub kelompok daging dan hasilnya sebesar 2,53 persen.
Enam kelompok lainnya mengalami penurunan indeks, dimana penurunan indeks terbesar terjadi pada sub kelompok ikan diawetkan yaitu sebesar -1,49 persen, disusul kemudian sub kelompok sayur-sayuran sebesar -1,34 persen Dari 107 komoditi yang ada pada kelompok ini, 105 komoditi diantaranya mengalami koreksi harga.
Koreksi harga positif atau kenaikan harga terjadi pada 54 komoditi. Komoditi yang dominan memberikan andil inflasi yang cukup besar antara lain daging ayam ras sebesar 0,0585 persen, melon 0,0574 persen, cabe merah 0,0283 persen, kangkung 0,0095 persen dan susu balita sebesar 0,0087 persen.
Sedangkan komoditi yang memberikan andil deflasi antara lain: bawang merah sebesar -0,0417 persen, jeruk sebesar -0,0279 persen, jengkol sebesar -0,0140 persen dan mentimun sebesar -0,0102 persen. Komoditi yang dominan memberikan andil inflasi adalah pada komoditi rokok kretek filter sebesar 0,0586 persen; mie sebesar 0,0511 persen, kue kering berminyak sebesar 0,0301 dan ayam bakar sebesar 0,0251 persen.
Sementara komoditi yang memberikan andil deflasi terbesar adalah gula pasir sebesar -0,0012 persen. Secara keseluruhan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar memberikan andil inflasi sebesar 0,1505 persen, dimana kontribusi terbesar disumbangkan oleh kenaikan bahan bakar rumah tangga (elpiji) dengan andil 0,0770 persen dan kenaikan tarip listrik dengan andil sebesar 0,0605 persen. Sementara komoditi yang memberi andil deflasi diantaranya adalah daun jendela sebesar -0,0013 persen, pembasmi nyamuk cair sebesar -0,0007 persen dan pembersih lantai sebesar -0,0003 persen.
Pada kelompok sandang, Suhaimi mengatakan secara keseluruhan sub kelompok ini memberikan andil inflasi sebesar 0,0199 persen, dimana kontribusi terbesar disumbangkan oleh seragam sekolah anak dengan andil 0,0076 persen. Disusul kemudian celana dalam wanita sebesar 0,0027 persen dan komoditi sepatu anak sebesar 0,0024 persen. Sementara itu komoditi yang memberi andil deflasi diantaranya adalah sepatu laki-laki dewasa -0,0032 persen, celana panjang jeans laki-laki -0,0026 persen dan pembalut -0,0005 persen.
Tiga dari empat sub kelompok yang ada pada kelompok kesehatan mengalami kenaikan indeks yaitu berturut turut sub kelompok obat-obatan naik 0,13 persen; sub kelompok perawatan jasmani dan kosmetik naik 0,90 persen dan sub kelompok jasa perawatan jasmani 1,37 persen. Sedang sub kelompok jasa kesehatan tidak mengalami koreksi. Dari 38 komoditi yang ada pada kelompok ini, 21 komoditi diantaranya mengalami koreksi harga dan koreksinya pun berupa kenaikan harga. Sehingga pada bulan ini tidak ada komoditi yang memberikan andil deflasi. Sementara itu, untuk komoditi yang dominan memberikan andil inflasi diantaranya adalah bedak sebesar 0,0108 persen, deodorant sebesar 0,0044 persen, sabun mandi cair sebesar 0,0026 persen dan pasta gigi sebesar 0,0017 persen.
Secara keseluruhan, kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga memberikan andil 0,0372 persen. Komoditi yang memberi andil inflasi adalah buku pelajaran SMP 0,0123 persen, biaya kuliah naik dengan andil 0,0113 persen dan buku pelajaran SD 0,0030 persen. Sementara komoditi yang memberikan andil deflasi adalah CD-Tape-Rec-Radio namun dengan andil yang kurang dari -0,0001 persen.
Pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan, dua dari empat sub kelompok yang ada mengalami penurunan indeks yaitu sub kelompok transpor yang turun -0,67 persen dan sub kelompok komunikasi & pengiriman sebesar 0,19 persen. Pada sub kelompok sarana penunjang transpor mengalami kenaikan indeks sebesar sebesar 0,23 persen.
Sementara pada sub kelompok jasa keuangan kembali tidak mengalami koreksi indeks. Komoditi yang memberikan andil deflasi pada kelompok ini adalah tarip angkutan udara -0,0794 persen, telepon seluler -0,0094 persen dan bensin sebesar -0,0047 persen. Sementara komoditi yang memberikan andil inflasi diantaranya adalah pemeliharaan/service kendaraan sebesar 0,0024 persen dan tarip ASDP sebesar 0,0003 persen.
Editor : Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.