Petugas dari Dinas Peternakan Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur tengah mengidentifikasi kasus kematian misterius sejumlah ternak sapi di wilayah Desa Nyawangan, Kecamatan Sendang, selama beberapa hari terakhir.

"Hari ini kami kirimkan petugas lapangan untuk melakukan investigasi," kata Kabid Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Kabupaten Tulungagung Mulyanto di Tulungagung, Selasa.

Namun ia belum bisa menyimpulkan apapun terkait fenomena kematian ternak sapi, yang sampai berita ini ditulis teridentifikasi berjumlah delapan ekor.

Alasannya, proses investigaso masih berjalan dan belum ada resume atas hasil penyelidikan lapangan yang dilakukan. Khususnya dari petunjuk hasil operasi bedah otopsi oleh tim dokter hewan.

"Kalau belum pegang data, saya tidak bisa ngomong. Nanti keliru," katanya.

Mulyanto mengaku baru tahu ada informasi yang menyebut sapi-sapi warga Desa Nyawangan yang mati mendadak dengan gejala misterius.

Warga dan peternak Desa Nyawangan dan sekitarnya sendiri saat ini dilanda keresahan.

Beredar kabar dan desas-desus yang menyebut delapan ekor ternak sapi perah dan pedaging itu sengaja diracun.

Akibatnya, warga setiap malam berjaga dan keliling kampung dengan aneka senjata.

Menurut Kelapa Desa Nyawangan, Sabar, ada sekitar 2.000 kepala keluarga di desanya.

Dari jumlah keluarga itu, lanjut dia, jika dirata-rata setiap keluarga punya tiga ekor sapi.

"Kalau totalnya ada sekitar 6.000-7000 ekor sapi di desa kami. Sepuluh persen sapi pedaging, sisanya sapi perah," katanya.

Mulyanto belum memastikan apakah sapi-sapi malang itu mati akibat diracun atau ada faktor lain. Karena alasan itu pula, Mulyanto juga enggan berspekulasi bahwa kandungan racun dimaksud (jika ada), akan berbahaya bagi manusia.

Sebab, lanjut Mulyanto dalam beberapa kejadian, racun hanya menyebar di bagian organ dalam sapi, tidak sampai masuk ke dalam daging.

Sedangkan ciri-ciri sebelum sapi itu mati, juga belum bisa dipakai untuk menyimpulkan.

Sebab beberapa penyakit menunjukkan gejala yang sama.

Untuk memastikan dibutuhkan diagnosa terhadap sapi yang sakit.

Sebelumnya ada delapan sapi yang mati di Desa Nyawangan, dalam rentang kurang dari dua bulan.

Sebelum mati sapi-sapi ini sempat melenguh keras, kemudian jatuh, sempat bangun namun jatuh lagi, kemudian mati.

Ada yang lidahnya terjulur, ada pula yang mulutnya berbusa.

Dari ciri-ciri itu warga meyakini sapi itu mati diracun, bukan karena sakit. (*)

Pewarta: Destyan H. Sujarwoko

Editor : Sambas


COPYRIGHT © ANTARA News Banten 2019