Thailand menjadi pemasok barang impor nonmigas terbesar ke Provinsi Banten pada Februari 2019 dengan nilai mencapai 116,73 juta dolar AS, menyusul Tiongkok 83,68 juta dolar AS, dan Australia 79,25 juta dolar AS.

Kabid Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Banten Bambang Widjonarko di Serang, Kamis, menyebutkan impor nonmigas dari ASEAN mencapai 219,43 juta dolar AS.

Ia mengatakan impor nonmigas dari dua belas negara asal barang pada Februari 2019 turun 5,24 persen atau sebesar 34,49 juta dolar AS dibanding bulan sebelumnya. Sejalan dengan hal tersebut, nilai impor nonmigas dari negara lainnya juga mengalami penurunan 141,01 juta dolar AS atau 90,64 persen.

Delapan dari dua belas negara pemasok utama mengalami penurunan impor nonmigas pada Februari 2019. Sebaliknya, pada empat negara yang lainnya terjadi peningkatan nilai impor.

Penurunan nilai impor tertinggi dan terendah terjadi pada Rusia dan Arab Saudi dengan penurunan masing-masing sebesar 42,57 juta dolar AS dan 4,37 juta dolar AS. Sementara itu, peningkatan nilai impor nonmigas tertinggi terjadi pada Thailand sebesar 78,36 juta dolar AS dan terendah pada India yakni 6,04 juta dolar AS.

Nilai impor nonmigas Februari 2019 untuk dua belas negara asal barang impor tercatat 624,20 juta dolar AS. Peran impor Januari-Februari 2019 mencapai 88,29 persen. Pangsa impor nonmigas terbesar untuk periode tersebut berasal dari Tiongkok yaitu 13,73 persen, diikuti oleh Australia yang memberikan andil 12,92 persen.

Kecuali Argentina, sebelas negara pemasok barang impor utama pada Februari 2019 merupakan pemasok barang impor utama yang sama dengan bulan sebelumnya. Enam negara tersebut di antaranya yaitu 3 negara dari ASEAN ditambah dengan Australia, India, dan Rusia merupakan negara-negara yang selalu masuk dalam dua belas pemasok barang impor utama setidaknya dalam delapan bulan terakhir dengan pangsa impor gabungan tidak kurang dari 45 persen.

Widjonarko juga menyebutkan nilai impor menurut golongan penggunaan barang pada Februari 2019 dibanding bulan sebelumnya mengalami penurunan pada semua golongan barang, baik golongan barang konsumsi turun 0,42 juta dolar AS, bahan baku/penolong 76,98 juta dolar AS, maupun barang modal dengan penurunan 47,65 juta dolar AS.

Berbeda dengan kondisi tersebut, impor menurut golongan penggunaan barang bulan Januari - Februari 2019 dibanding kumulatif Februari 2018 terjadi penurunan nilai impor pada barang konsumsi sebesar 62,63 persen, sedangkan pada golongan bahan baku/penolong dan barang modal terjadi peningkatan nilai impor masing-masing sebesar 0,66 peren dan 11,05 persen

Pangsa impor terbesar untuk Januari-Februari 2019 masih berasal dari golongan bahan baku/penolong, yaitu mencapai 92,67 persen, sementara untuk barang konsumsi dan barang modal, masing-masing sebesar 1,37 persen dan 5,96 persen.

Pangsa impor untuk golongan bahan baku/penolong meningkat dibandingkan dengan periode yang sama 2018. Demikian juga untuk golongan barang modal. Sebaliknya, pada golongan barang konsumsi terjadi penurunan pangsa impor, katanya.

Dua belas negara asal barang pada Februari itu adalah Thailand senilai 116,73 juta dolar AS, Singapura (58,24 juta dolar AS), Malaysia (41,47 juta dolar AS), Tiongkok (83,68 juta dolar AS), Australia (79,25 juta dolar AS), Argentina (60,84 juta dolar AS), Jepang (46,21 juta dolar AS), India (36,59 juta dolar AS), Arab Saudi (32,22 juta dolar AS), Brazil (26,17 juta dolar AS), Rusia (26,16 juta dolar AS) dan Ukraina senilai 16,64 juta dolar AS.

Sementara sepuluh golongan barang impor adalah bahan kimia organik senilai 191,45 juta dolar AS, besi dan baja (71,85 juta dolar AS), gandum-ganduman (70,82 juta dolar AS), gula dan kembang gula (65,18 juta dolar AS), bahan bakar mineral (64,87 juta dolar AS), bijih, kerak dan abu logam (39,21 juta dolar AS), benda-benda dari besi dan baja (38,65 juta dolar AS), ampas/sisa industri makanan (28,74 juta dolar AS) dan mesin/peralatan listik senilai 18,69 juta dolar AS.

Pewarta: Ridwan Chaidir

Editor : Sambas


COPYRIGHT © ANTARA News Banten 2019